John Tobing Telah Pergi, Darah Juang Tetap Abadi

John Tobing yang setia di jalur perjuangan rakyat ini telah berpulang, tetapi semangat "Darah Juang" yang ia wariskan tetap abadi

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
PEMAKAMAN JOHN - Prosesi pemakaman John Tobing di TPU Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (28/2/2026) siang. Pemakaman pegiat pro demokrasi ini dihadiri aktivis dari lintas generasi. 

 

"Di sini negeri kami, tempat padi terhampar. 

Samuderanya kaya raya, negeri kami subur, tuan" 


TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Lirik sakral itu mengalun, tidak sedang diteriakkan dalam aksi demo di jalanan, melainkan dinyanyikan dengan kedukaan mendalam oleh para pelayat yang melepas kepergian penciptanya, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau dikenal John Tobing ke peristirahatan terakhirnya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (28/2/2026 siang. 

Aktivis 98' yang setia di jalur perjuangan rakyat ini telah berpulang, namun semangat "Darah Juang" yang ia wariskan tetap abadi, di jantung pergerakan Indonesia.

Pemakaman John dihadiri tokoh pergerakan lintas generasi. Mulai dari sahabat seperjuangannya, Afnan Malay, Web Warouw.

Ada juga Melki dari pegiat Sosial Movement Institute (SMI), Aktivis Jaringan Anti Korupsi, Tri Wahyu hingga Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. 

Jenazah John tiba di TPU Madurejo sekira pukul 14.00 setelah diberangkatkan dari persemayamannya di Rumah Duka RS Bethesda, Yogyakarta, pukul 13.00 siang.

Prosesi pemakaman diawali dengan upacara penghormatan dan lantunan doa dari pendeta dan keluarga.

Isak tangis terdengar ketika peti jenazah John mulai diturunkan ke liang lahat. Puisi dari Afnan Malay, sahabat John, yang terinspirasi dari lagu darah juang mengiringi dengan pilu.

"Dari pulau-pulau samuderanya kaya raya, kemana ikan-ikannya pergi. 

Dari sawah-sawah tempat padi terhampar, memanen getir," kata Afnan. 

jadi penghormatan terakhir 

Lagu darah juang mengalun pelan, diiringi petikan gitar dan gesekan biola. 

Lantunan lagu ini menjadi penghormatan terakhir dari para sahabat dan pelayat, yang seakan memeluk jenazah John, menemani dalam peristirahatan abadinya. 

Puisi dari Azila, yang mengaku sebagai anak buruh migran, tak kalah sendu. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved