Telur Kukus Diduga Jadi Pemicu Keracunan Massal MBG di Sentolo
Telur kukus jadi pemicu karena paling banyak dikonsumsi oleh sekitar 1.044 pelajar yang menerima MBG pada 20 Januari itu
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Dinas Kesehatan Kulon Progo menerima hasil uji Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta terkait keracunan massal MBG di Sentolo.
- Ditemukan bakteri *Bacillus cereus* pada nasi dan tempe serta *Staphylococcus aureus* pada nasi, tempe, dan sayur. Sekitar 200 dari 1.044 siswa mengalami gejala setelah konsumsi.
- Dinkes merekomendasikan evaluasi total SPPG, penerapan sistem HACCP, serta pelatihan rutin. SPPG Kaliagung masih tutup dan melakukan perbaikan fasilitas pascakejadian.
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo telah menerima hasil pemeriksaan dari sampel dugaan keracunan makanan yang terjadi di Kapanewon Sentolo pada 20 Januari silam.
Pemeriksaan sampel dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta.
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan pihaknya menerima hasil pemeriksaan dari BB Labkesmas belum lama ini.
"Pemeriksaannya membutuhkan waktu 14 hari sejak sampel dikirim, dan kami juga melakukan investigasi," jelasnya pada wartawan, Senin (16/02/2026).
Pemeriksaan dilakukan pada sampel makanan, feses, hingga muntahan. Makanan berasal dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan hari itu, meliputi nasi putih, telur kukus asam manis, tempe goreng, tumis sayur, dan buah anggur.
Menurut hasil pemeriksaan, telur kukus disebut jadi salah satu pemicu terbesar.
Berdasarkan penelusuran, rupanya telur kukus tersebut dimasak sekitar pukul 18.30 WIB, Senin (19/02/2026) atau sehari sebelum didistribusikan.
"Jadi telur kukusnya dimasak 12 jam sebelum didistribusikan, dan itu tidak dimasak ulang," kata Susilaningsih.
Telur kukus jadi pemicu karena paling banyak dikonsumsi oleh sekitar 1.044 pelajar yang menerima MBG pada 20 Januari itu. Adapun yang bergejala sebanyak 200 pelajar.
Selain itu, ditemukan pula bakteri Bacillus cereus pada nasi dan tempe serta bakteri Staphylococcus aureus pada nasi, tempe, dan sayur tumis.
Susilaningsih mengatakan bakteri ini mudah muncul pada makanan yang mengandung gula.
"Jadi telur kukusnya sebagai kendaraan utama penyebaran bakteri karena makanan disimpan di suhu ruang yang terlalu lama," ujarnya.
Susilaningsih pun mendorong agar pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses menyiapkan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
Terutama memastikan prosesnya sesuai standar higienitas.
Baca juga: Program Padat Karya Tahun 2026 Sasar 39 Titik di Kulon Progo, Disiapkan Angaran Rp 3,9 M
| Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Bantul, Kepala SDN Monggang Beberkan Kronologinya |
|
|---|
| Langkah Serius Pemda DIY Sikapi Kekerasan Jalanan: Perkuat Pendidikan Karakter hingga Hukuman Tegas |
|
|---|
| Alasan Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Setelah Dibuka Beberapa Jam |
|
|---|
| Kedok Laki-laki Jadian di Malang Terbongkar Saat Malam Pertama |
|
|---|
| Dubes Inggris Kunjungi Stasiun Yogyakarta, Perkuat Kolaborasi Perencanaan Tata Kota Terintegrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Telur-Kukus-Diduga-Jadi-Pemicu-Keracunan-Massal-MBG-di-Sentolo.jpg)