Eternal Light dan Konsistensi Pengkaryaan Indiria Maharsi
Selama bertahun tahun, Indiria membangun pengkaryaan yang tidak berhenti pada fungsi ilustrasi sebagai elemen visual.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Secara visual, figur-figur dalam Eternal Light digarap menyerupai karakter pewayangan, menegaskan akar budaya Nusantara sekaligus membuka ruang dialog lintas budaya.
“Dominasi warna kuning yang menyelimuti komposisi karya menghadirkan ambiguitas makna: kesucian dan spiritualitas di satu sisi, serta energi dan kegelisahan di sisi lain,” imbuhnya.
Di YICAF #3 yang mengusung tema Art Platform as International Art Connectivity, karya tersebut dibaca dalam kerangka konektivitas global.
Kehadirannya menunjukkan bagaimana praktik seni berbasis lokal dapat berbicara dalam bahasa universal.
Festival ini sekaligus menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai institusi seni yang aktif membangun jejaring internasional.
Karya yang sama kemudian hadir di lanskap berbeda, kawasan Gunung Bromo, dalam perhelatan Jazz Gunung yang memadukan seni visual dan musik jazz.
Pameran ini melibatkan puluhan seniman dari berbagai disiplin di lingkungan ISI Yogyakarta.
Tuai Apresiasi
Dalam pengantar kuratorialnya, Mikke Susanto menegaskan bahwa seni visual dalam Jazz Gunung bukan sekadar pelengkap pertunjukan musik, melainkan bagian integral dari pengalaman estetika yang menyatukan rupa, bunyi, ritme alam, dan atmosfer spiritual pegunungan.
“Dalam konteks ini, karya Eternal Light menemukan resonansi yang kuat: narasi tentang cahaya, pertarungan nilai, dan penjagaan kehidupan berjumpa langsung dengan lanskap alam Bromo yang sarat makna ekologis dan simbolik,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., yang menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan seni dan ekosistem kreatif.
Menurutnya, keterlibatan ISI dalam Jazz Gunung merupakan bagian dari misi akademik dan pengabdian untuk menghidupkan kebudayaan sekaligus memperluas jejaring internasional.
Bagi Indiria, tampilnya Eternal Light dalam dua pameran besar ini bukan sekadar capaian personal, melainkan refleksi atas konsistensi panjang yang ia bangun.
Dari ilustrasi sebagai medium komunikasi visual hingga lukisan monumental sebagai ruang refleksi spiritual dan kosmik, ia menjaga kesinambungan antara riset, pengajaran, dan praktik artistik.
Jejak tersebut menempatkan Indiria Maharsi sebagai salah satu figur penting dalam seni rupa Indonesia kontemporer.
Ia tidak tergesa mengikuti arus, melainkan membangun bahasa visual yang berakar pada budaya lokal dan tetap terbuka terhadap pembacaan global, sekaligus menegaskan bahwa seni dapat menjadi ruang refleksi moral dan kemanusiaan yang relevan lintas zaman.(*)
| Megawati Buka Pameran “Mata Hati Soekarno”, 47 Perupa Tafsirkan Warisan Pemikiran Bung Karno |
|
|---|
| Bangun Kepercayaan, JUTF 2026 Edukasi Warga Pilih Travel Umrah Resmi |
|
|---|
| Band Marsmolys Gelar Pameran Seni di ISI Yogyakarta, Padukan Musik dan Seni Rupa |
|
|---|
| Mengulik Karya Ikonik Nor Jayadi, Kursi Ergonomis Berbalut Sejarah Yogyakarta |
|
|---|
| Ramadhan Arif Fatkhur, Seniman yang Menghidupkan Cerita dari Menempa Aluminium |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Indiria-Maharsi-dan-karyanya-Eternal-Light.jpg)