Mengulik Karya Ikonik Nor Jayadi, Kursi Ergonomis Berbalut Sejarah Yogyakarta
Karya ini, disebut-sebut memiliki estetika dan mengutamakan unsur ergonomic, sehingga menarik perhatian publik.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Dosen ISI Yogyakarta, Nor Jayadi, memamerkan karya kursi makan estetik dan ergonomis bernama Plengkung Dining Chair berbahan kayu jati.
- Desain kursi tersebut terinspirasi dari sejarah Plengkung Gading Yogyakarta dengan memadukan unsur budaya Jawa dan konsep natural etnik.
- Karya seni ini dirancang untuk orientasi pasar produk massal yang inovatif dengan membidik minat dari konsumen lokal maupun pasar asing.
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Seniman sekaligus Dosen Prodi Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Nor Jayadi, memamerkan karyanya dalam ajang Yogyakarta Internasional Creative Arts Festival pada beberapa waktu lalu.
Karya seni dari bahan material teakwood dengan judul Plengkung Dining Chair ini memiliki ukuran 49x56x85 sentimeter. Karya ini, disebut-sebut memiliki estetika dan mengutamakan unsur ergonomic, sehingga menarik perhatian publik.
Penuh eksperimen
Kepala Prodi Desain Produk ISI Yogyakarta, Endro Trisusanto, mengatakan, menyebut, Nor Jayadi menjadi seniman yang penuh eksperimen. Sebab, karyanya kali ini penuh estetika dalam mengolah karakter bahan teakwood atau kayu jati.
"Saya pikir, karya itu bagus. Apalagi jati memiliki serat yang cukup kuat dan lebih fleksibel. Jadi, karakternya lebih kuat dibandingkan yang lain. Kayu jati juga mudah diukir dan memiliki nilai estetika tinggi," katanya, Jumat (29/5/2026).
Selain itu, karya Plengkung Dining Chair memiliki konsep Plengkung Gading atau yang dikenal sebagai Plengkung Nirbaya. Itu menjadi salah satu dari lima gerbang utama yang mengelilingi Keraton Yogyakarta.
Kombinasi sejarah Yogyakarta
Dengan begitu, karya tersebut bukan hanya estetik, tetapi juga mampu mengkombinasikan dengan sejarah hingga bermakna penting dalam budaya Jawa. Sebab, desain konsep yang dipersembahkan berupa natural etnik Yogyakarta.
"Karya itu juga mengikuti lengkungan tubuh jadi lebih ergonomis dan estetik. Jadi, karya yang dipersembahkan menurut saya tidak hanya konvensional, tetapi juga ada penggalian estetik yang dipadukan dengan unsur budaya," terang dia.
Lebih lanjut, produk tersebut berorientasi pasar mass product (produk massal) dan market oriented. Dengan begitu, diharapkan dapat dilirik oleh pasar asing. Apalagi, biasanya karya seni sejenis tersebut dilirik oleh warga negara asing.
Ide muncul dari peluang pasar
Sementara itu, seniman Plengkung Dining Chair, Nor Jayadi, mengakui, ide karya tersebut didapatkan dari banyaknya peluang pasar akan produk kursi dengan nuansa etnik, estetik, dan ikonik.
"Itu yang membuat saya mencari segmen pasar yang berbeda dan material yang ada di sekitar kita," ujarnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan sebuah produk selalu mengedepankan inovasi dan desain sebagai barometer, karena dengan desain baru maka selalu menarik untuk dipasarkan karena itu yang selalu dicari customer.
"Dining chair sebagai aktivitas makan dalam kegiatan sehari-hari dikembangkan menjadi macam-macam bentuk yang ikonik dan estetik, kursi selain mengutamakan unsur ergonomic juga harus mengutamakan unsur estetika, sehingga penggunaan material natural etnik menjadi hal yang menarik," ucapnya.(nei)
| UNY Telusuri Dugaan Alumni Lakukan Riset Palsu di Konferensi Internasional |
|
|---|
| Rekonstruksi Kasus Kekerasan di Little Aresha Daycare Yogyakarta Bakal Digelar Bulan Depan |
|
|---|
| Dosen UGM Penuhi Panggilan Polisi Terkait Pemeriksaan Kasus Little Aresha Daycare |
|
|---|
| Dosen Tamu yang Terlibat Kekerasan Seksual di UPN "Veteran" Yogyakarta Sudah Dinonaktifkan |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta: Deri Corfe Nikmati Liburan, Tetap Jaga Kebugaran untuk Musim Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mengulik-Karya-Ikonik-Nor-Jayadi-Kursi-Ergonomis-Berbalut-Sejarah-Yogyakarta.jpg)