Eternal Light dan Konsistensi Pengkaryaan Indiria Maharsi
Selama bertahun tahun, Indiria membangun pengkaryaan yang tidak berhenti pada fungsi ilustrasi sebagai elemen visual.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah arus seni rupa kontemporer yang terus bergerak cepat, ada sejumlah perupa yang memilih menempuh jalan panjang dan konsisten.
Indiria Maharsi termasuk di antaranya.
Ia merawat praktik artistik yang bertumpu pada riset, simbolisme, dan refleksi kultural, sembari tetap aktif sebagai akademisi di Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta.
Selama bertahun tahun, Indiria membangun pengkaryaan yang tidak berhenti pada fungsi ilustrasi sebagai elemen visual.
Karya karyanya berkembang menjadi ruang tafsir, mengajak publik membaca ulang relasi manusia dengan nilai moral, spiritualitas, dan semesta.
Disiplin ilustrasi yang ia tekuni menjadi pijakan menuju praktik seni rupa naratif dengan kedalaman konseptual yang semakin luas.
Pameran Besar
Pada 2025, perjalanan itu mencapai momentum penting ketika karya monumentalnya, Eternal Light, tampil dalam dua pameran besar.
Pertama di Yogyakarta International Creative Arts Festival atau YICAF #3 yang digelar 21 Juni hingga 31 Agustus 2025 di FSRD ISI Yogyakarta.
Kedua dalam Pameran Seni Visual Jazz Gunung Series 1 dan 2: Bromo 2025, yang berlangsung 19 Juli hingga 19 Agustus 2025 di Jiwa Jawa Resort, Bromo.
Eternal Light yang dibuat pada 2020 merupakan lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 200 x 150 sentimeter.
Baca juga: 600 Pelajar dan Mahasiswa dari 26 Kota Ikuti Laga Fotografi di ISI Yogyakarta
Dalam katalog pameran YICAF #3, Indiria menjelaskan bahwa karya ini berkisah tentang sosok ibu sebagai penjaga cahaya abadi.
Sosok tersebut menghadapi figur-figur yang berupaya merebut cahaya demi kepentingan pribadi, digerakkan oleh nafsu dan kehilangan kesadaran terhadap kearifan, kesemestaan, dan akal budi.
“Pertarungan antara ‘ibu’ dan para perebut cahaya berlangsung tanpa akhir, menjadi metafora tentang konflik moral yang terus berulang dalam sejarah manusia,” jelas Indiria.
Makna ibu dalam karya ini tidak dibatasi pada figur biologis, melainkan diperluas sebagai arketip kosmik dan psikologis, ibu pertiwi, ibu bumi, sekaligus sumber kehidupan.
Cahaya abadi dimaknai sebagai roh hidup yang murni dan nilai kebaikan yang harus dijaga di tengah tekanan.
| Asah Sensitivitas Kemanusiaan, Butet Kartaredjasa Boyong Seniman Melukis di Rutan Polres Bantul |
|
|---|
| KAI Daop 6 Jadi Ruang Interaksi Lewat Pameran Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Penanda Sejarahnya |
|
|---|
| Pameran Merintis Pewaris Jadi Respon Tantangan Zaman, Dekat dengan Generasi Muda |
|
|---|
| Kisah Mbah Kibar, Seniman Asli Bantul yang Berjuang Tebus Tanah Leluhur Lewat Goresan Kanvas |
|
|---|
| Pameran 'Jejak Kepahlawanan Sri Sultan HB II' Digelar di Jogja, Bakal Hadirkan Visualisasi Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Indiria-Maharsi-dan-karyanya-Eternal-Light.jpg)