Ramadhan Arif Fatkhur, Seniman yang Menghidupkan Cerita dari Menempa Aluminium
Bagi sebagian orang, pelat nomor kendaraan mungkin hanya dianggap benda biasa yang ditemui di jalanan.
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi sebagian orang, pelat nomor kendaraan mungkin hanya dianggap benda biasa yang ditemui setiap hari di jalanan.
Namun Ramadhan Arif Fatkhur, melihatnya dengan cara yang berbeda dan justru menginspirasinya dalam membuat karya seni yang penuh detail, simbol, dan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Seniman yang akrab disapa Rama itu dikenal lewat karya-karya berbahan aluminium dengan teknik emboss atau kenteng yang menjadi ciri khasnya. Melalui medium tersebut, ia memadukan dunia fine art dengan kultur otomotif yang sudah dekat dengan hidupnya sejak kecil.
Ketertarikan Rama pada seni rupa mulai tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di masa itu, ia mulai mencari bentuk idealisme dan karakter visual yang benar-benar merepresentasikan dirinya sebagai seniman.
“Awal mula tertarik di dunia seni rupa berawal dari masuknya saya di ISI Yogyakarta, kemudian saya mulai fokus mencari idealisme di bentuk-bentuk seni rupa yang kemudian saya aplikasi hingga saat ini,” ujarnya, saat ditemui di workshop-nya yang berada di Sewon, Bantul.
Pencarian itu akhirnya membawanya pada aluminium sebagai medium utama berkarya. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Rama merasa medium logam memiliki kedekatan kuat dengan dunia otomotif yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupannya.
Pengaruh otomotif dalam proses kreatif Rama memang cukup besar. Kedekatan itu tumbuh dari lingkungan keluarga, terutama karena banyak anggota keluarganya dari pihak ayah yang berkecimpung di bidang otomotif. Dari situ, kendaraan bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan ruang budaya yang penuh cerita dan pengalaman sosial.
Rama kemudian menjadikan pengalaman berkendara, persoalan bengkel, hingga fenomena transportasi umum sebagai sumber ide visual. Hal-hal yang sering dianggap biasa itu ia bawa masuk ke ruang seni rupa agar bisa dilihat dari sudut pandang berbeda.
“Problematika yang ada di seputaran dunia otomotif kemudian saya hubungkan di ruang seni rupa yang bisa dinikmati khalayak umum,” katanya.
Pengaruh tersebut terlihat jelas dalam teknik embos yang ia kembangkan. Rama banyak mengeksplorasi bentuk visual dan menerapkannya pada media aluminium. Teknik itu kemudian berkembang menjadi identitas visual yang kuat dalam karya-karyanya.
Aluminium secara media logam mungkin sangat bersahabat di kantong, namun dalam proses pengerjaannya justru bisa lebih rumit dibandingkan media seperti kuningan ataupun tembaga.
Rama harus bekerja dengan tingkat presisi tinggi karena aluminium memiliki karakter yang rumit untuk dibentuk. Kesalahan kecil dapat merusak detail visual, terlebih material tersebut tidak bisa ditekuk berkali-kali karena mudah patah.
Kerumitan itu semakin terasa saat ia membuat karya tiga dimensi dengan pola menyerupai papercraft atau mainan lipat. Jika pada media kertas lipatan bisa diulang, aluminium justru menuntut ketelitian lebih karena setiap bentuk harus dibuat nyaris sempurna sejak awal.
“Tantangan yang paling berat dalam pengerjaan karya saya adalah proses di mana aluminium itu ditempa atau dikenteng. Karena kerumitannya sangat perlu dikoreksi dan perlu banyak pengulangan untuk detailing,” tutur Rama.
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Malam Hari Ini Sabtu 23 Mei 2026 |
|
|---|
| 20 Tahun Gempa Jogja: Momentum Perkuat Ekosistem Siaga Bencana |
|
|---|
| Ketua Komisi XI DPR RI Sebut Influencer TikTok Bikin Seolah Dunia Mau Runtuh: Jangan Percaya |
|
|---|
| Ketua Komisi XI DPR RI Ungkap Fungsi LPS dalam Menjaga Kepercayaan Publik |
|
|---|
| Cek Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Sabtu 23 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ramadhan-Arif-Fatkhur-Seniman-yang-bergelut-di-dunia-fine-art-dan-otomotif.jpg)