20 Tahun Gempa Jogja: Momentum Perkuat Ekosistem Siaga Bencana

Pemerintah, elemen relawan, masyarakat dan dunia usaha menggelar Apel Kesiapsiagaan

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
APEL - Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Pasukan memperingati 20 tahun gempa bumi Yogyakarta, sekaligus menjadi momentum refleksi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana yang berkelanjutan. Kegiatan digelar di Lapangan Garuda, kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Sabtu (23/5/2026). 

 


TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah, elemen relawan, masyarakat dan dunia usaha menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Pasukan bertempat di Lapangan Garuda, kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan ini menandai peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta, sekaligus menjadi momentum refleksi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengingatkan bahwa hidup di DIY berdampingan dengan beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi Gunung Merapi, kekeringan hingga cuaca ekstrem.

Karena itu, bencana di DIY harus dipandang bukan sebagai persitiwa yang jauh, asing atau sesekali datang. Bencana adalah bagian dari realitas ruang hidup warga di Yogyakarta. 

"Maka peringatan 20 tahun gempa harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kita belajar dan bersiap terhadap resiko bencana," katanya. 

Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai sebuah ekosistem utuh. Hal ini mencakup infrastruktur aman, sistem peringatan dini yang cepat, pemetaan logistik, kejelasan prosedur komando, hingga penguatan kapasitas masyarakat melalui Desa Tangguh Bencana dan Satuan Pendidikan Aman Bencana.

Falsafah Jawa eling lan waspodo serta semangat memayu hayuning bawana juga ditekankan sebagai tanggung jawab moral bersama untuk menjaga keselamatan manusia dan lingkungan. Dalam kesempatan itu, diingatkan juga agar peralatan kebencanaan yang digelar dipastikan siap pakai dan dikuasai oleh personel yang kompeten.

"Alat yang lengkap tanpa kemampuan operasi hanya akan menjadi benda mati.Sebaliknya personel yang terlatih, peralatan yang siap dan prosedur yang jelas, akan menjadi kekuatan penyelamatan," ujarnya. 

Sinergi Pentahelix

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, melalui Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial, Kemenko PMK, Lilik Kurniawan memaparkan kembali kedahsyatan gempa magnitudo 5,9 SR pada 27 Mei 2006 lalu. Selama 57 detik, bencana tersebut merenggut lebih dari 5.700 korban jiwa, merusak 200 ribu rumah, dan memicu dampak kerugian hingga Rp29 triliun.

Karena itu, peringatan dua dasawarsa ini merupakan sarana memperkuat memori kolektif bangsa bahwa mitigasi adalah investasi jangka panjang. Ia mengapresiasi kolaborasi seluruh unsur pentahelix dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat yang hadir dalam apel tersebut. Ia mengingatkan tantangan potensi bencana geologi hingga hidro-meteorologi saat ini. 

"Momentum ini juga penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi risiko bencana lain, termasuk dampak fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan dan lahan," jelas dia. 

Latih 1.000 Siswa

Di sisi lain, sektor dunia usaha turut mengambil peran aktif dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Direktur Operasi InJourney Destination Management (IDM), Indung Purwita Jati, menyatakan komitmennya dalam mengedukasi generasi muda. Menurut dia, IDM telah memberikan pembekalan edukasi tanggap bencana kepada 1.000 siswa dari 10 SMA. Pelajar tingkat SMA sengaja dipilih karena dianggap sudah siap menerima materi tentang kesiapsiagaan bencana.

"Harapannya mereka bisa menjadi ambassador atau duta yang mampu mengedukasi orang tua dan tetangga di lingkungan sekitar saat terjadi bencana," kata Indung.

Bukan hanya itu, IDM juga telah membentuk tim khusus kemanusiaan bernama Gurila (Gunung Rimba Laut). Mereka aktif membantu pemulihan psikologis dan distribusi logistik korban bencana di berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh dan Sumatra. Terkait perlindungan kawasan Candi Prambanan yang sempat rusak akibat gempa 2006, Indung menjelaskan bahwa penguatan dan pembenahan terhadap struktur candi telah dilakukan. Ia mengamini bahwa saat gempa dahsyat dua dasawarsa lalu trjadi, Candi Prambanan sempat terdampak. Namun segera dipulihkan. Saat ini upaya kehati-hatian masih dilakukan oleh pengelola, termasuk dengan membatasi aktivitas pengunjung. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved