Deru Mesin dan Harmoni Puisi di Simpang Empat Denggung: Kisah Abroery Mengamen dengan Cara Berpuisi
Ia menyulap jalanan di jantung Bumi Sembada itu menjadi panggung sastra, melantunkan bait-bait puisi untuk menyuarakan keresahan sosial
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah terik matahari, bising deru mesin dan kepulan asap kendaraan di Simpang Empat Denggung, Abroery Arodam biasa muncul menawarkan harmoni yang berbeda.
Sosoknya nyentrik. Ia tidak memetik gitar, melainkan melantunkan bait-bait puisi untuk menyuarakan keresahan sosial sekaligus merawat sastra di kerasnya aspal jalanan.
Berbekal speaker corong
Pemuda 37 tahun itu tidak membutuhkan alat musik untuk menarik perhatian. Berbekal speaker corong, topi koboi dan kesadaran, suaranya lepas, bebas, menyatu dengan deru suara mesin. Ia menyulap jalanan di jantung Bumi Sembada itu menjadi panggung sastra, seakan ingin membuktikan bahwa di sela ruang tunggu lampu merah yang sangat membosankan sastra masih punya ruang untuk bernapas.
"Motivasi saya, hanya ingin melestarikan kesenian puisi. Yang sekarang benar-benar mau punah," kata Abroery, atau kerap disapa Masbro, pada Kamis (5/2/2026).
Ia mengaku sudah melakukan penelusuran dihampir semua platform media sosial, terutama di lima belas tahun terakhir, hampir tidak ada kreativitas yang menyajikan karya seni puisi. Dewasa ini, seseorang yang tampil joget-joget di media sosial dianggap sudah paling kreatif. Hal ini tentu berbeda, dibanding era tahun 90an, yang mencurahkan kreativitas dengan mengolah pikiran, rasa, bait dan diksi yang tepat.
Karena itu, untuk melawan keterbatasan ia memilih jalanan sebagai panggung agar puisi tidak punah. Supaya lebih apik, ia menyelipkan kidung di antara penampilannya.
"Saya imbangi kidung biar fresh dan orang-orang suka. Inspirasi saya dari Sujiwo Tedjo, seniman yang sering bawa kidung," katanya.
-
Wanita jalang di emperan Jogja
Kala gelap gulita,
engkau menyala nyala.
Diisak tangis kau tersenyum manja
Hai Nona!
Katakan pada yang menghinamu.
Biar...biar...biar,..biarkan..saja
Disini anakmu menggigil
Disana ibumu menggelepar, tahan lapar
Sepenggal bait puisi itu meluncur dari bibir Abroery yang berpadu dengan speaker corong. Suaranya berintonasi pilu, namun tegas. Puisi berjudul wanita jalang itu ditulisnya dari inspirasi seoarang teman yang berjuang mencari nafkah hingga larut malam membawa anaknya. Ada pesan moral yang ingin disampaikan dari deretan bait itu.
Puisi yang ditulis Abroery bukan berangkat dari ruang hampa. Puisinya merupakan hasil kontemplasi dari berbagam peristiwa yang mendera batinnya. Misalnya saat dia menulis puisi Banjir Bandang Sibolga.
Banjir Bandang Sibolga
Air menyala menyala di atas perbukitan, mengggelepar..
Kemana kampungku?
Mau kau apain hidupku?
Jawab...
Ayok dijawab..
Puisi tersebut tercipta pascatragedi bencana alam yang menerjang Sumatera, terutama di Kota Sibolga, pada November tahun lalu. Dahsyatnya bencana yang menghancurkan rumah-rumah warga menginspirasi dirinya untuk mengabadikannya dalam sajak puisi. Puisi itu digunakannya untuk penggalangan donasi kemanusiaan.
"Hasil penggalangan sudah kami luncurkan untuk donasi," kata Abroery.
Mengenyam pendidikan tinggi
Meski kini tinggal di emperan, anggota Teater Jalanan Jogja ini adalah seorang Sarjana Hukum. Abroery pernah mengenyam pendidikan tinggi di sebuah kampus di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
| Polisi Ringkus Pemuda Asal Bantul yang Kedapatan Bawa Celurit dan Diduga Mabuk di Jalan Palagan |
|
|---|
| Dirut PSS Sleman Sambut Derby DIY dengan Pesan Damai untuk Suporter |
|
|---|
| Derby DIY Bakal Kembali Tersaji di Kasta Tertinggi, Bos PSIM Yogyakarta Ungkap Hal Ini |
|
|---|
| Perkembangan Kasus Temuan 11 Bayi di Pakem: Polisi Bentuk Tim Khusus hingga Dugaan Pelanggaran Hukum |
|
|---|
| Kawal Kasus Shinta Alumni UGM yang Bermasalah dengan Oknum Polisi Sleman, Ini Janji Polda DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Deru-Mesin-dan-Harmoni-Puisi-di-Simpang-Empat-Denggung-Kisah-Abroery-Mengamen-dengan-Cara-Berpuisi.jpg)