Tanggapan Warga Kraton Pembatasan Kendaraan di Jeron Benteng Yogyakarta
Warga Jeron Beteng Yogyakarta menilai wacana pembatasan kendaraan bermotor perlu dikaji ulang.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Iwan Al Khasni
Ringkasan Berita:Warga Jeron Beteng Yogyakarta menilai wacana pembatasan kendaraan bermotor perlu dikaji ulang.Mereka khawatir kebijakan tersebut menyulitkan mobilitas harian, dan meminta pemerintah fokus pada kendaraan wisata serta membuka ruang dialog dengan masyarakat.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA – Wacana kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di kawasan cagar budaya Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, memicu kekhawatiran warga.
Mereka menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang agar tidak menyulitkan mobilitas harian masyarakat lokal.
Bayu Sejati, warga Panembahan, Kemantren Kraton, menyatakan keberatan jika kebijakan diterapkan tanpa mempertimbangkan kepentingan warga.
“Untuk keluar dari Beteng itu jaraknya cukup jauh, bisa lebih dari 500 meter. Kalau akses warga dibatasi, itu rasanya tidak manusiawi,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Soroti Kendaraan Wisata dan Parkir
Menurut Bayu, persoalan utama Jeron Beteng bukan kendaraan pribadi warga, melainkan menjamurnya armada pariwisata dan minimnya fasilitas parkir.
Ia mencontohkan kawasan Wijilan serta Alun-alun Utara dan Selatan yang kerap macet saat musim liburan.
“Kadang ada yang parkir sembarangan, sampai menghalangi pintu keluar gang. Seharusnya itu yang ditertibkan dulu,” tegasnya.
Bayu menilai solusi realistis adalah membatasi kendaraan wisatawan, terutama bus besar, agar tidak masuk ke jantung Jeron Beteng.
Warga Dorong Dialog
Senada, Sujiwo, warga Kadipaten, menekankan pentingnya ruang dialog sebelum kebijakan diterapkan.
“Jangan tiba-tiba dibatasi dengan dalih uji coba. Kalau lewat harus berputar dulu, kan jadinya warga yang repot,” ujarnya.
Ia mencontohkan kasus penutupan Pelengkung Gading yang mendadak dan menyulitkan warga.
“Harapan kami ada diskusi dulu, biar pelestarian jalan, warga juga enak,” tambahnya.
Warga Jeron Beteng berharap pemerintah daerah menyeimbangkan pelestarian kawasan heritage dengan kenyamanan hidup masyarakat lokal, sehingga kebijakan pembatasan kendaraan tidak menimbulkan beban baru bagi penghuni kawasan.
| Menghidupkan Spirit Kartini Lewat Denting Instrumen dan Anggun Busana di Warawaditra |
|
|---|
| Restitusi Sejarah Geger Sepehi, Pemerintah Diminta Pulihkan Hak Aset Hutan Jati Keraton Yogya |
|
|---|
| Sejarah Geger Sapehi 1812 : Meriam-meriam Inggris Tembus Benteng Lor Wetan Keraton Yogyakarta |
|
|---|
| Sejarawan Ungkap Bukti Peran Perancis dan Pasukan 'Sepoy' di Peristiwa Geger Sepehi 1812 |
|
|---|
| HUT ke-80 Sri Sultan HB X: Dari Hasil Bumi hingga UMKM, Glondong Pangarem-arem Dibagi ke Penjuru DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Benteng-dan-Plengkung-Keraton-Yogyakarta.jpg)