SD Muhammadiyah Sapen

Penjelasan Antrean Calon Siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta hingga 2032

Fenomena antrean panjang di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta hingga tahun ajaran 2032–2033 menarik perhatian publik.

Tayang:
Tribunjogja.com/IST
Fenomena antrean panjang di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta hingga tahun ajaran 2032–2033 menarik perhatian publik. Penjelasan sekolah menegaskan bahwa mekanisme yang terjadi adalah penitipan dokumen 

 

Ringkasan Berita:Fenomena antrean panjang di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta hingga tahun ajaran 2032–2033 menarik perhatian publik. Penjelasan sekolah menegaskan bahwa mekanisme yang terjadi adalah penitipan dokumen, bukan pendaftaran resmi, dengan fokus pada kualitas pendidikan dan skema subsidi silang bagi keluarga kurang mampu.

 

Yogyakarta Tribunjogja.com --- Fenomena unik terjadi di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Ketika sebagian orang tua masih menimang bayi, sebagian lainnya sudah memikirkan bangku sekolah dasar untuk anaknya. 

Tingginya animo masyarakat membuat daftar calon murid di sekolah ini memanjang hingga beberapa tahun ke depan.

Nama SD Muhammadiyah Sapen belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul kabar bahwa antrean calon peserta didik telah penuh hingga tahun ajaran 2032–2033. 

Kabar tersebut bukan sekadar isu, melainkan dikonfirmasi langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Ia menyebut fenomena ini sebagai cerminan mutu, integritas, dan keberhasilan sekolah dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Penjelasan Kepala Sekolah

Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, menyadari ramainya perbincangan di berbagai platform media sosial. Ia menilai perlu ada penjelasan agar publik memahami konteks sebenarnya. 

Menurutnya, seleksi penerimaan murid baru di sekolah ini dilakukan tanpa tes akademik. Penentuan penerimaan hanya didasarkan pada usia calon peserta didik sesuai ketentuan yang berlaku.

Agung menambahkan, kondisi murid di SD Muhammadiyah Sapen sangat heterogen. Ada yang sejak awal sudah lancar baca-tulis-hitung, ada yang belum mengenal huruf dan angka, bahkan ada pula yang berkebutuhan khusus.

Mekanisme Penitipan Dokumen

Ramainya antrean bukan berarti pendaftaran resmi sudah dilakukan. Agung menegaskan bahwa yang terjadi adalah mekanisme penitipan dokumen kependudukan, berupa Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga. Proses penerimaan murid baru sendiri dilakukan satu tahun sebelum tahun ajaran dimulai.

Awalnya, penitipan dokumen hanya dibuka untuk calon murid berusia enam tahun. Namun, desakan orang tua membuat sekolah akhirnya menerima penitipan untuk tahun-tahun berikutnya. 

Bahkan, ada orang tua yang menitipkan dokumen anaknya sejak bayi lahir. Hingga kini, penitipan dokumen sudah mencapai tahun ajaran 2032–2033 dengan jumlah 148 calon murid. 

Pada angkatan-angkatan sebelumnya, jumlah penitipan bahkan melampaui 450 orang, sementara kuota penerimaan hanya 230 murid per angkatan.

Agung menegaskan bahwa penitipan dokumen tidak otomatis menjamin diterima. Finalisasi penerimaan dilakukan satu tahun sebelum masuk sekolah dengan mempertimbangkan urutan penitipan dan usia sesuai ketentuan.

Biaya Pendidikan dan Subsidi

Di tengah tingginya minat masyarakat, isu biaya pendidikan juga mencuat. Agung menegaskan bahwa SD Muhammadiyah Sapen tidak hanya melayani keluarga mampu, melainkan juga menjalankan fungsi dakwah melalui skema subsidi silang. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved