Desember 2025, DIY Alami Inflasi Bulanan 0,65 Persen

Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami inflasi bulanan (mtm) sebesar 0,65 persen pada Desember 2025

Istimewa
INFLASI DIY: Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati menyampaikan perkembangan inflasi DIY secara daring. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami inflasi bulanan (mtm) sebesar 0,65 persen pada Desember 2025. Sehingga, inflasi tahun ke tahun (yoy) dan inflasi tahun kalender (ytd) DIY pada Desember mencapai 3,11 persen.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati mengatakan inflasi tersebut masih dalam batas yang ditetapkan pemerintah yaitu 2,5 persen±1 persen.

Ia menyebut inflasi yang terjadi pada Desember 2025 merupakan inflasi tertinggi ketiga sepanjang 2025.

“Dalam tahun 2025, DIY tercatat mengalami 4 kali deflasi dan 8 kali inflasi,” katanya melalui keterangan daring, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Desember 2025 (mtm) dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi pada kelompok ini menjadi yang tertinggi yaitu 1,66 persen dengan andilnya 0,47 persen.

Kelompok lainnya yang mengalami inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi 1,83 persen dengan andilnya 0,13 persen.

“Sementara kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,01 persen,” terangnya.

Ia melanjutkan komoditas yang mendorong inflasi adalah cabai rawit dengan andilnya 0,14 persen, emas perhiasan andilnya 0,13 persen, daging ayam ras andilnya 0,06 persen, bensin dan cabai merah masing-masing memberikan andil 0,04 persen.

Komoditas lainnya seperti bawang merah dan telur ayam ras masing-masing memberikan andil inflasi 0,03 persen. Kemudian tomat, cabai hijau, dan wortel masing-masing memberikan andil inflasi 0,02 persen.

“Sebaliknya, komoditas yang menghambat inflasi adalah kelapa dengan andil deflasi 0,02 persen, kemudian buncis dan ketimun dengan andil deflasi masing-masing 0,01 persen,” lanjutnya.

Baca juga: Antisipasi Pembuangan Sampah Liar, Satpol PP Perketat Pengawasan di Area Jembatan GL Zoo

Secara umum, komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau memiliki frekuensi yang lebih sering sebagai komoditas utama penyumbang inflasi sepanjang 2025.

Dari 15 komoditas, 12 komoditas merupakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sepanjang 2025 adalah emas perhiasan. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi selama 10 bulan. 

Herum menjelaskan inflasi tahun ke tahun (yoy) Desember 2025 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Pada Desember 2024, inflasi tahun ke tahun hanya 1,28 persen.

“Kalau berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil tertinggi mencapai 1,39 persen dari 3,11 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah beras, cabai rawit, dan cabai merah,” jelasnya.

“Andil tertinggi kedua, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 0,92 persen. Komoditas penyumbang utamanya adalah emas perhiasan. Satu-satunya kelompok yang nyaris tidak memberikan andil terhadap inflasi yaitu informasi, komunikasi, dan jasa keuangan,” pungkasnya. (maw)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved