Human Interest Story

Korban Selamat Asal Sleman Ceritakan Insiden Kecelakaan Maut Bus Cahaya Trans di Exit Tol Semarang

Purwoko tidak bisa lupa peristiwa kelam, ketika kecelakaan bus Cahaya Trans yang merenggut nyawa istri dan anaknya itu terjadi

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
KORBAN KECELAKAAN - Suasana di rumah duka, korban kecelakaan maut Bus PO Cahaya Trans, di Kebur Lor, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Senin (22/12/2025) 

"Petugas datang, lalu bilang, yang sabar, yang tabah ya. Ternyata istri dan anak saya meninggal," ucapnya, sambil mengusap air mata. 

Purwoko berusaha menguatkan hati dan tegar agar bisa berdamai dengan musibah berat ini.

Ia mengaku tidak dendam dengan siapapun.

Termasuk dengan sang sopir yang telah membuat kecelakaan hingga belasan nyawa melayang.

Ia menerimanya sebagai takdir yang harus dijalani. Meskipun terasa sangat berat. 

LIANG LAHAT: Calon makam untuk Ibu dan anak, asal Kebur Lor, Argomulyo, yang menjadi korban kecelakaan Bus Cahaya Trans Exit Tol Semarang, Senin (22/12/2025)
LIANG LAHAT: Calon makam untuk Ibu dan anak, asal Kebur Lor, Argomulyo, yang menjadi korban kecelakaan Bus Cahaya Trans Exit Tol Semarang, Senin (22/12/2025) (tribunjogja/Ahmad Syarifudin)

Kenangan Sosok Anak dan Istri

Lelaki 50 tahun itu mengenang bagaimana Mutia, sebagai putri bungsu, namun sangat bisa diandalkan.

Mutia merupakan mahasiswi berprestasi di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Meski baru semester 3 namun sudah mandiri mencari uang jajan sendiri dengan bekerja sebagai penyedia jasa edukasi anak-anak di kafe wilayah Klidon, Yogyakarta.

Gadis kelahiran 2006 itu juga dikenal supel, mudah bergaul dan menjadi atlet Judo Kabupaten. 

Mutia sudah malang melintang mengikuti Kejuaraan Porda. Banyak medali yang telah diraih. 

Sedangkan almarhumah Endah, sang istri, Purwoko mengenangnya sebagai sosok yang solehah.

Ia bercerita, hampir tiap malam istrinya menyempatkan beribadah malam. Bahkan puasa senin dan kamis rutin dijalankan.

Ia mengaku amat kehilangan karena sebelum tidur, biasa bercanda. 

"Kalau lagi ramai, banyak orang, tidak begitu terasa. Tapi pas malam, sendirian. Saya kehilangan," katanya. Mata Purwoko berkaca kaca. Namun ia terlihat berusaha sekuat tenaga menahannya. 

Baca juga: Mutia Istirahat Abadi dalam Pusara Ibunda: Ibu-Anak Korban Laka Bus di Semarang Dikubur Satu Liang

Hari Depan Tak Lagi Sama

Duduk di teras, mengenakan celana pendek dan kaus, matanya menerang jauh mengingat masa indah bersama istri dan buah hatinya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved