Human Interest Story

Kisah Aji Ramadan, Driver Ojol yang Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM

Pilihan menjadi driver ojol merupakan langkah menyiasati keterbatasan ekonomi keluarga dalam membiayai kuliahnya. 

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Istimewa
Aji Ramadan, seorang driver Ojol seusai melaksanakan prosesi wisuda sarjana hukum UGM, Selasa (3/2/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kerasnya aspal jalanan tak menyurutkan Wahyu Aji Ramadan meraih mimpinya mengenyam studi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

Di tengah keterbatasan biaya kuliah, Aji harus menyisihkan waktunya untuk bekerja sebagai driver ojek online (Ojol) makanan untuk mencukupi kehidupan dan biaya kuliah.

Kini, kerja kerasnya itu terbayar tuntas saat dirinya menjadi lulusan fakultas hukum UGM predikat cumlaude.

Pilihan menjadi driver ojol merupakan langkah menyiasati keterbatasan ekonomi keluarga dalam membiayai kuliahnya. 

Apalagi selama kuliah, dia tidak mendapatkan beasiswa yang membuatnya memilih jalan lain untuk tetap bertahan dengan memilih menjadi tukang jasa antar makanan. 

“Waktu itu nggak dapat beasiswa sama sekali, pengen punya penghasilan sendiri dan setidaknya bisa meringankan beban orangtua,”  ujar Aji, Rabu (4/2/2026).

Perjuangan Tak Mudah

Sebagai seorang mahasiswa sekaligus ojol makanan, rutinitas yang dihadapi Aji antara kuliah dan kerja sambilan tentu tidak mudah. 

Dia harus mengatur waktu dengan baik agar keduanya bisa tetap berjalan beriringan. 

Jika ada jam kuliah siang, maka waktu pagi hari digunakan untuk mencari pesanan. 

Sebaliknya, jika kuliah pagi, siang atau sorenya di pergunakan untuk bekerja. 

Kawasan Kaliurang, Pogung, dan Kotabaru menjadi saksi perjuangan Aji untuk dapat bertahan hidup.

Pendapatan atau komisi yang dia terima sebagai pengemudi ojol, untuk layanan pesan antar makanan online yang menghubungkan pelanggan dengan restoran/UMKM, berkisar dari Rp6.400 hingga Rp7.200, sampai belasan ribu rupiah yang bergantung pada jarak orderan pelanggan. 

Namun kenyataan di lapangan untuk mendapatkan orderan dan komisi tidaklah mudah. 

“Jujur kenyataannya harus diakui nggak mudah dijalani. Sempat bersitegang dengan pemilik resto dan diancam sekitar jam dua pagi saat bulan puasa karena hendak ambil orderan tapi resto ternyata tutup. Lalu, orderan customer juga pernah jatuh di jalan dan akhirnya ganti rugi. Rela berangkat hujan-hujanan demi dapat bonus, bahkan panas-panasan nyari orderan tapi ban bocor di jalan,” kenangnya. 

Baca juga: Kisah Ryaas Amin, Mahasiswa UGM Biayai Kuliah Sendiri Sambil Jadi Driver Ojol

Kerja Paruh Waktu

Selain menjadi pengemudi pengantar makanan, Aji juga sempat bekerja paruh waktu di Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum UGM

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved