Sri Sultan HB X Tekankan Tiga Arah Transformasi Pramuka DIY

Dalam kesempatan itu, Sri Sultan menilai perubahan sosial, teknologi, dan budaya generasi muda menuntut Pramuka membaca ulang perannya

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa/Dok Humas Pemda DIY
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin pengucapan ikrar saat pelantikan Pengurus Majelis Pembimbing Daerah, Kwartir Daerah, dan Lembaga Pemeriksa Keuangan Gerakan Pramuka DIY Masa Bakti 2025–2030 di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta, Senin (15/12/2025). Pelantikan tersebut menandai dimulainya masa bakti kepengurusan baru dengan penekanan transformasi Pramuka agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman. 

TRIBUNJOGJA.COM- Gerakan Pramuka DIY dituntut berbenah melalui integrasi teknologi, penguatan nilai kebangsaan, dan pembaruan kaderisasi, sebagaimana ditegaskan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X usai dilantik sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY Masa Bakti 2025–2030, Senin (15/12/2025).

Pelantikan Sri Sultan dilakukan oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso, di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, Sri Sultan menilai perubahan sosial, teknologi, dan budaya generasi muda menuntut Pramuka membaca ulang perannya agar tetap relevan.

Orientasi pertama yang ditekankan ialah modernisasi pedagogi Pramuka melalui integrasi teknologi digital, literasi lingkungan, kewargaan global, serta praktik kewirausahaan sosial. Menurut Sri Sultan, tantangan utama Pramuka saat ini adalah relevansi pedagogis sehingga Pramuka harus menjadi ruang pendidikan yang inspiratif, bukan sekadar ritual administratif. 

“Generasi muda hidup dalam dunia yang cair, cepat, dan sarat informasi. Mereka membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya mengasah kecakapan teknis, tetapi juga kemampuan reflektif, empatik, dan kolaboratif,” ujar Sri Sultan.

Orientasi kedua adalah penguatan nilai kebangsaan yang inklusif agar Pramuka menjadi forum pembelajaran lintas latar belakang yang menumbuhkan budi pekerti dan semangat gotong royong. Nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan, menurut Sultan, tetap harus dijaga, namun diterjemahkan dalam kerangka masyarakat demokratis yang menjunjung kesetaraan dan kebebasan berpendapat. “Resonansi antara tradisi dan nilai-nilai baru, dapat menjadi peluang, untuk memantapkan kembali karakter kewargaan yang kooperatif dan matang,” kata Sri Sultan.

Sementara itu, orientasi ketiga menyangkut pembaruan tata kelola dan kaderisasi agar Pramuka melahirkan pemimpin muda yang tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga peka terhadap realitas dan mampu menimbang keputusan dengan kejernihan moral. 

“Pramuka tidak sekadar bertahan, tetapi ‘ngrembaka’, tumbuh menjadi gerakan yang relevan, adaptif, dan berdaya cipta bagi masa depan bangsa,” tutur Sri Sultan.

Pada kesempatan yang sama, Sri Sultan juga melantik Pengurus Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY serta Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) Kwarda DIY Masa Bakti 2025–2030. Jabatan Ketua Kwarda DIY diemban GKR Hayu, menggantikan GKR Mangkubumi, sedangkan Ketua LPK Kwarda DIY dipercayakan kepada Didik Wardaya.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Budi Waseso, menyebut pelantikan tersebut sebagai momentum penting bagi perjalanan Pramuka DIY. Ia menilai tantangan generasi muda di era digital semakin kompleks sehingga Pramuka perlu hadir sebagai pusat pendidikan karakter yang adaptif dan inovatif, namun tetap berakar pada nilai Pancasila dan Dasa Dharma. 

“Saya yakin gerakan pramuka di Daerah Istimewa Yogyakarta ini akan semakin maju dan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan bangsa ke depan,” ujar Budi Waseso.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved