Ada Apa Dengan Jembatan Kewek Jogja? Kenapa dan Kapan Dibangun Ulang?
Ada apa dengan Jembatan Kewek di Jogja? Mengapa Pemkot Yogyakarta berencana membangun ulang Jembatan Kewek pada tahun 2026 mendatang?
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Ada apa dengan Jembatan Kewek di Jogja?
- Mengapa Pemkot Yogyakarta berencana membangun ulang Jembatan Kewek pada tahun 2026 mendatang?
- Ternayta, renovasi Jembatan Kewek dilakuan mengingat usia jembatan yang melintang di atas Kali Code itu sudah mencapai satu abad, dan konstruksinya semakin kritis.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ada apa dengan Jembatan Kewek di Jogja?
Mengapa Pemkot Yogyakarta berencana membangun ulang Jembatan Kewek pada tahun 2026 mendatang?
Ternayta, renovasi Jembatan Kewek dilakuan mengingat usia jembatan yang melintang di atas Kali Code itu sudah mencapai satu abad, dan konstruksinya semakin kritis.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, kondisi jembatan saat ini sudah mengalami kerusakan karena faktor usia.
Untuk itu, revitalisasi menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh, dengan metode pembongkaran total, untuk kemudian dibangun jembatan baru.
"Akan dilaksanakan di 2026. Nanti dibongkar, terus kita bangun baru," ujarnya, saat ditemui di sela pemantauan rekayasa lalu lintas Jembatan Kewek, Rabu (10/12/2025).
Ia menjelaskan, meski berada di wilayah Kota Yogyakarta, proses pembangunan fisik jembatan sepenuhnya akan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Anggaran yang digelontorkan pun bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sebesar lebih kurang Rp19 miliar.
"Yang membangun nanti Kementerian PU ya, bukan dari kita. Jadi, dibangunnya pakai APBN. Kebutuhan anggarannya kurang lebih Rp19 miliar untuk pembangunan penuh," jelasnya.
Terkait masa pengerjaan, Umi menyebut, bahwa proses awal seperti review Detail Engineering Design (DED) dan tender akan dimulai pada awal 2026, sekitar bulan Januari.
Sementara untuk pengerjaan fisik, diperkirakan akan dimulai pada bulan April 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan selama sembilan bulan.
"Mungkin sekitar April lah, untuk mulai pengerjaan. Kalau secara tata kala, kurang lebih sembilan bulan pembangunan," imbuhnya.
Di kawasan Sumbu Filosofi
Umi menekankan, meski Jembatan Kewek secara status bukan merupakan Benda Cagar Budaya, namun lokasinya berada di kawasan Sumbu Filosofi.
Hal tersebut membuat desain fasad yang diterapkan untuk jembatan baru nantinya tidak bisa sembarangan, serta harus melalui kajian mendalam.
Saat ini, pihaknya tengah intens berkonsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan ahli budaya, guna menentukan desain yang selaras dengan nilai kawasan tersebut.
"Karena berada di kawasan cagar budaya, sehingga semua desain harus mengikuti arahan dari Dinas Kebudayaan. Ini sedang berproses," tuturnya.
Secara teknis konstruksi, Jembatan Kewek baru ke depan akan tetap menggunakan model jembatan beton seperti yang ada saat ini.
Hanya saja, detail visual atau fasadnya masih menunggu arahan final, supaya benar-benar sesuai dengan napas Sumbu Filosofi Yogyakarta.
"Secara teknis modelnya, ya, sudah pakai jembatan beton, sama (seperti sekarang). Cuma kita masih diskusi di fasadnya," jelasnya.
Rekayasa lalu lintas di Jembatan Kewek
Sementara itu, rekayasa lalu lintas di kawasan Jembatan Kewek yang mulai diberlakukan sejak Rabu (10/12/2025), sejauh ini dinilai berjalan cukup efektif.
Meski demikian, Pemkot Yogyakarta menyebut ujian sesungguhnya baru akan terlihat pada Jumat (12/12/2025) malam, seiring meningkatnya volume kendaraan jelang akhir pekan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menuturkan, selaras pengamatannya selama dua hari penerapan, arus lalu lintas terpantau relatif lancar.
Pihaknya memberlakukan penutupan parsial di Jembatan Kewek dengan memasang portal pembatas, sehingga kendaraan besar seperti bus dan truk tidak dapat melintas dan harus memutar, untuk meminimalisir beban di jalur tersebut.
"Sampai hari ini masih lancar. Tapi, malam ini evaluasi yang sangat menentukan, karena sudah malam Sabtu. Biasanya weekend (padat). Kita akan lihat seperti apa suasananya dengan rekayasa yang ada," ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Hasto menyebut, situasi itu menjadi simulasi nyata untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul saat puncak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) nanti.
Dalam evaluasi sementara, ia juga menerima laporan soal banyaknya pengendara sepeda motor yang melakukan putar balik di celah separator di selatan Gereja Kotabaru, karena enggan memutar melalui Stadion Kridosono.
"Nanti saya cek, apakah itu karena ada kemacetan di (Jembatan) Kleringan atau situasional yang lain. Memang di Kridosono itu melambat, potensial macetnya cukup tinggi, tapi kalau mobil tidak masalah memutar di sana," jelasnya.
Siapkan rencana cadangan
Untuk mengantisipasi kepadatan yang 'mengunci' kawasan Kridosono dan Kotabaru, Pemkot Yogyakarta pun sudah menyiapkan skenario cadangan atau Plan B.
Hasto menjelaskan, jika kondisi di dalam kota sudah overload, petugas akan melakukan penyaringan kendaraan sejak dari perempatan Gramedia hingga ke hulu di pertigaan Ringroad Jalan Solo.
"Kita akan seleksi di depan Gramedia, petugas akan mengatur buka tutupnya. Lebih hulu lagi, di pertigaan Ringroad dari arah Jalan Solo, kita pasang petugas untuk saling komunikasi," paparnya.
"Kalau kondisi memang overload, bus kita arahkan ke Ringroad. Nanti dilewatkan Jalan Magelang, baru ke selatan masuk kota dan parkir di Ngabean. Itu situasi Plan B-nya," tambah Wali Kota.
Ubah kebiasaan warga
Sebelumnya, Dirlantas Polda DIY, Kombes Pol Yuswanto Ardi, mengatakan, rekayasa akan mengubah kebiasaan pengendara yang hendak menuju Malioboro dari arah Tugu (Jalan Margoutomo).
Langkah tersebut diambil menyusul kondisi konstruksi Jembatan Kewek yang dinilai sudah kritis, sehingga memerlukan preservasi segera.
"Kendaraan dari Jalan Margoutomo yang biasanya di titik ini (Jembatan Kewek) bisa langsung belok kanan ke Malioboro, saat ini kita teruskan lurus sampai ke Kridosono (arah Stadion)," ujarnya, di sela pemantauan, Rabu (10/12/2025).
Menurutnya, sosialiasi akan dilangsungkan agar pengguna jalan semakin akrab dengan rekayasa lalu lintas yang bakal diterapkan jangka panjang tersebut.
Ardi memprediksi, setelah masyarakat mengetahui perubahan yang berlaku, perilaku berkendara menuju Malioboro akan bergeser menuju Simpang Gramedia.
"Nanti lambat laun masyarakat akan mengubah rutenya, dari (Jalan) Margoutomo menjadi ke Simpang Gramedia menuju ke selatan. Jadi prediksi kami Simpang Gramedia akan terjadi peningkatan arus yang besar," jelasnya.
Untuk mengantisipasi stuck di kawasan seputaran Stadion Kridosono, kepolisian pun sudah menyiapkan skenario diskresi di beberapa simpang krusial.
Pertama, di Simpang Gramedia, kendaraan dari arah Jalan Cik Di Tiro nantinya diperbolehkan belok kiri langsung ke arah timur jika ruas menuju Kridosono padat.
"Kemudian, di Simpang Galeria, arus yang ke arah timur akan diizinkan berbelok ke kanan (ke arah selatan) menuju Flyover Lempuyangan," urainya.
Sejarah Jembatan Kewek
Jembatan Kewek atau juga disebut Kretek Kewek terdiri dari jembatan kereta api dan jembatan jalan raya yang melintas di atas Kali Code dan menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro, berdasarkan laman pariwisata.jogjakota.go.id.
Pada bagian atas Kretek Kewek terdapat jembatan kereta api dengan jalur ganda yang menghubungkan Stasiun Yogyakarta dengan Stasiun Lempuyangan.
Sebelumnya, di tahun 2011, dilakukan renovasi dan pembangunan jalur ganda jaringan rel kereta api di Jembatan Kewek.
Setelahnya, jalur rel yang melintasi jembatan Kleringan juga telah dielektrifikasi pada tahun 2020 untuk mendukung lalu lintas kereta rel listrik (KRL) di Yogyakarta.
Sedangkan di bagian bawah terdapat jembatan untuk kendaraan yang dikenal dengan nama Jembatan Kleringan.
Setelah renovasi pada tahun 2012, nama Jembatan Kleringan yang menghubungkan Kecamatan Jetis dan Gondokusuman ini diganti dengan nama Jembatan Amarta.
Asal-usul nama “Kewek”
Jembatan Kewek atau Kretek Kewek ada sejak dibangunnya jaringan rel kereta api dan Stasiun Lempuyangan yang dikelola oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappelijk (NIS) pada tahun 1872.
Sedangkan asal-usul nama Kretek Kewek rupanya berawal dari lidah masyarakat Yogyakarta yang sulit melafalkan istilah dalam Bahasa Belanda.
Nama Kewek berasal dari istilah dalam Bahasa Belanda yaitu Kerk Weg yang artinya jalan menuju gereja, sementara Kretek adalah sebutan orang Jawa untuk bangunan jembatan.
Hal ini merujuk keberadaan Gereja Santo Antonius di Kotabaru yang tidak jauh dari jembatan tersebut.
Pembangunan Kretek Kewek tidak terlepas dari pembangunan Kotabaru pada tahun 1920-an yang dilakukan Pemerintah Belanda.
Saat itu dibangun akses untuk menyeberangi sungai Code dari arah Kotabaru menuju Malioboro, dikarenakan saat itu jembatan Gondolayu yang menjadi satu-satunya akses memilki rute yang lebih jauh.
Dengan struktur viaduk, desain jembatan ini bertujuan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan akibat perlintasan kereta api mengingat lalu lintas yang cukup padat.
Saat ini, Kretek Kewek adalah salah satu bagian inti dari kawasan pusaka Kotabaru yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur DIY No 186/KEP/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya.
Jembatan Kewek juga masuk dalam daftar Potensi Heritage di Kota Yogyakarta tahun 2011 yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Walau begitu, jembatan yang dikategorikan sebagai artefak non-bangunan gedung ini belum mengantongi surat keputusan penetapan sebagai warisan budaya atau cagar budaya.
Meski belum ditetapkan sebagai cagar budaya, tetapi Kretek Kewek adalah bagian utama dari kawasan inti yang harus dilestarikan dan dijaga keasliannya.
Itu sesuai dengan Perda Provinsi DIY No. 6 tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya, yang harus memperhatikan ciri asli, bentuk, dan fasad struktur jembatan itu.
| Update Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Selasa 19 Mei 2026 Pukul 18.00 WIB |
|
|---|
| Melihat Motor Drag Listrik Siswa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Speed Tembus 134,4 Km/Jam |
|
|---|
| AJI Yogyakarta Kecam Israel atas Penculikan Jurnalis WNI, Minta Presiden Prabowo Turun Tangan |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta: Umar dan Dodok Resmi Jadi Kandidat Presiden Brajamusti |
|
|---|
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Sore-Malam Hari Ini Selasa 19 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Rekayasa-Lalin-Jembatan-Kewek-Warga-Ledok-Tukangan-Khawatir-Kampungnya-Jadi-Jalur-Alternatif.jpg)