Beragam Empati dari Jogja bagi Korban Bencana Alam Sumatera
Bencana alam yang melanda Sumatera memunculkan beragam empati mendalam di Jogja.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Bencana alam yang melanda Sumatera memunculkan beragam empati mendalam di Jogja.
- Sepasang suami istri di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, menggratiskan makan untuk warga beridentitas dari Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), yang sedang berada di DIY.
- Tindakan itu dilakukan di warung usahanya yakni Warung Makan Nusantara, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana belum lama ini.
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Bencana alam yang melanda Sumatera memunculkan beragam empati mendalam di Jogja.
Sepasang suami istri di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, menggratiskan makan untuk warga beridentitas dari Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), yang sedang berada di DIY.
Tindakan itu dilakukan di warung usahanya yakni Warung Makan Nusantara, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana belum lama ini.
Apalagi, di DIY, ada mahasiswa atau pelajar dari tiga provinsi terdampak bencana dan masih mengalami kehidupan yang susah.
Warung makan yang didirikan oleh Muhammad Muflih Kholidin (37) dan Nur Azizah (33) itu, berada di Jalan Garuda, Kepanjen, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Muflih mengaku, program makan gratis untuk masyarakat yang terdampak bencana itu, sudah dimulai sejak Senin (1/12/2025).
"Awalnya, informasi terkait makan gratis untuk pemegang identitas itu, kami bagikan melalui status dan pesan WhatsApp. Dan ternyatam alhamdulillah, mulai Senin itu sudah ada satu mahasiswa (terdampak bencana) yang mulai makan di sini," katanya kepada awak media di tempat Warung Makan Nusantara, Rabu (3/12/2025).
Kala itu, mahasiswa tersebut bercerita bahwa untuk mendapatkan informasi terkait kondisi keluarga yang terdampak bencana.
Katanya, rumah yang ditempati oleh keluarga mahasiswa itu sampai terendam lumpur sekitar dua meter.
"Katanya, rumah dia sampai cuma kelihatan sedikit atap. Itu mahasiswa mana, kita enggak tanya. Namanya siapa, kita lupa," tutur Muflih.
Kemudian, pada hari kedua dan ketiga mulai banyak mahasiswa yang terdampak bencana datang ke tempat usahanya untuk mendapatkan makan gratis.
Sehari yang lalu, ada sekitar 10 mahasiswa dan pada hari ini ada sekitar tujuh mahasiswa yang datang dan mendapatkan makan gratis di tempatnya.
Warung makan baru
Di sisi lain, keberadaan Warung Makan Nusantara itu sendiri masih tergolong baru.
Baru setelah Idul Adha 2025, ia bersama istinya, dan seorang temannya bertekad membuka usaha Warung Makan Nusantara itu.
Sebenarnya, sejak usaha itu dibuka, ia selalu sering memberikan program gratis makan untuk masyarakat setiap hari Jumat.
"Visi kami bikin warung ini untuk berbagi manfaat. Kami ingin orang lain itu merasakan manfaat dari apa yang kita lakukan. Karena, ketika saya kuliah dapat teh gratis di masjid itu punya rasa senang yang luar biasa," ujar laki-laki asal Lamongan, Jawa Timur ini.
Meringankan beban
Lebih lanjut, orang yang berprofesi sebagai programer dan dosen freelance Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah itu mengaku, sengaja berbagi makan gratis untuk orang Aceh, Sumut, dan Sumbar yang sedang tinggal di DIY dikarenakan adanya informasi warga membantu warga.
"Terus kemudian, kami juga ingat di satu ayat dalam Al-Qur'an itu untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Akhirnya, apa yang bisa kita bantu itu semoga meringankan mereka yang membutuhkan walau pun belum banyak," ucap dia.
Ia pun memperbolehkan warga Aceh, Sumut, dan Sumbar yang tinggal di DIY untuk berulang kali makan di lokasi tersebut tanpa membayar.
Sebab, program itu diberikan sampai keluarga terdampak bencana mulai menjalani kehidupan normal atau kehidupan yang pulih.
"Saya yakin, kami pasti akan mendapat ganti dari perbuatan ini. Dalam artian, kalau pun yang datang seharian ful, Insyallah mereka bahagia, kita juga bahagia," papar dia.
Apalagi, ia meyakini bahwa dalam Islam terdapat hukum wakaf. Di mana, tindakan kebaikan dari wakaf itu sangat candu, sehingga terdapat rasa kebahagiaan yang tertular dengan baik.
"Harapan kami, tindakan seperti ini bukan cuma kami saja. Tetapi, masyarakat lain juga bisa melakukan sekecil apapun kebaikan untuk masyarakat yang sedang terdampak bencana," ujar dia.
Keringanan biaya kuliah
Selain itu, Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.
Keringanan ini diberikan untuk memastikan perkuliahan mahasiswa asal Sumatera di UII tetap berjalan lancar, di tengah musibah yang menimba keluarga di kampung halaman.
Rektor UII, Prof. Fathul Wahid mengatakan UII memiliki panduan umum bantuan untuk mahasiswa terdampak bencana sejak 2018. Terkait skema keringanan, akan disesuaikan dengan dampaknya.
"Kalau di UII ada skema bantuan, tergantung tingkat keterdampakannya. Saat ini, sedang kami proses," katanya, Rabu (03/12/2025).
Ia menerangkan jika terdampak sangat berat, seperti pemberi biaya kuliah meninggal, sumber pendapatan hancur, maka kampus akan membebaskan SPP sampai lulus mahasiswa tersebut lulus (masa studi normal).
Pihak UII juga akan membebaskan dana Catur Darma yang belum dilunasi.
Mahasiswa juga akan mendapatkan bantuan biaya hidup selama tiga bulan, serta bebas biaya studi lain, termasuk praktikum, KKN, dan lain-lain.
"Tingkat keterdampakan yang lebih rendah, menyesuaikan jenis dan besarannya," terangnya.
Ia menambahkan pihak kampus akan membuat pengumuman resmi agar mahasiswa terdampak bisa mengajukan permohonan.
Setelah itu, pihak kampus akan melakukan verifikasi untuk menentukan jenis dan besaran bantuan pendidikan yang diberikan.
Trauma healing
Di sisi lain, gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 19–25 November 2025 mendorong Universitas Gadjah Mada mengerahkan respons cepat, mulai dari pengiriman tim trauma healing hingga dukungan bagi mahasiswa terdampak.
Bencana yang dipicu hujan ekstrem selama hampir sepekan itu menimbulkan kerusakan luas, memutus akses jalan dan komunikasi, serta merusak ribuan rumah dan fasilitas umum.
“UGM menyampaikan belasungkawa mendalam atas bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” kata Sekretaris Universitas (SU) UGM, Dr. Andi Sandi, Rabu (3/12).
Sebagai institusi yang memikul peran pengabdian masyarakat, Andi menyatakan UGM segera mengambil langkah-langkah respons bencana melalui koordinasi lintas unit.
Upaya tersebut melibatkan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM), Disaster Response Unit (DERU), Ditmawa, Direktur Perencanaan, Biro Manajemen Sistem (BMS), Forum Komunikasi Mahasiswa (Forkom), serta tim relawan GER (Gelanggang Emergency Response).
“Kita sudah memberangkatkan tim trauma healing dari FK-KMK yang telah bergerak menuju lokasi terdampak,” ujarnya.
Tim tersebut akan melakukan pendampingan psikososial kepada penyintas yang terdampak banjir dan longsor.
Selain itu, UGM bersama para pakar dan relawan turut menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah dalam penanganan darurat dan tahap rekonstruksi.
Di saat yang sama, UGM juga menyiapkan langkah pendampingan bagi civitas akademika yang keluarganya terdampak bencana.
Koordinator DERU UGM, Ardian Andi Pradana, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi awal dengan berbagai unit kampus.
“Kami telah melakukan koordinasi, dan untuk saat ini fokus awal kami adalah penyaluran bantuan ditujukan untuk civitas akademika UGM yang keluarganya sedang tertimpa musibah di wilayah bencana,” ujarnya.
Ardian menilai situasi di lapangan yang masih tidak stabil membuat sebagian mahasiswa berpotensi mengalami kesulitan memperoleh kiriman uang saku dari keluarga.
Karena itu, UGM menyiapkan dukungan sementara guna memastikan mahasiswa tetap dapat bertahan dalam keseharian dan mengikuti kegiatan akademik.
“Intinya adalah kami bisa membantu mendampingi teman-teman mahasiswa yang keluarganya kena musibah untuk menguatkan mereka” jelasnya.
UGM telah menerima data awal mahasiswa yang berasal dari wilayah bencana melalui Ditmawa.
Pendataan lebih rinci tengah dilakukan oleh Forkom, GER, serta BEM di tingkat fakultas guna memastikan kebutuhan spesifik setiap mahasiswa terdampak.
“Terkait dengan relawan, sementara akan kami fokuskan untuk proses pendataan mahasiswa dulu di sini. Setelah asesmen selesai, bantuan akan mulai disalurkan sesuai kebutuhan mahasiswa terdampak,” kata Ardian.
Bantuan yang disiapkan mencakup opsi logistik maupun dukungan finansial, menyesuaikan hasil asesmen kebutuhan riil.
Di sisi lain, GER dan Forkom juga bekerja sama dengan Kantor Pos untuk memfasilitasi distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Ardian menambahkan bahwa masyarakat umum yang ingin memberikan dukungan dipersilakan menyalurkan donasi, baik dalam bentuk barang maupun dana. (Tim Tribun Jogja)
| Update Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Kamis 4 Juni 2026 Pukul 18.00 WIB |
|
|---|
| Minat Anak Muda Jogja Terhadap Produk Syariah Melejit, Tapi Butuh Suntikan Edukasi |
|
|---|
| Rencana Malioboro Bebas Asap Kendaraan Bermotor, Ini Langkah Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta |
|
|---|
| Bukan Dipenjara, Ini Hukuman Tak Biasa Bagi Pria di Blora yang Tega Tendang Kucing hingga Mati |
|
|---|
| Update Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Kamis 4 Juni 2026 Pukul 11.00 WIB |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kisah-Sepasang-Suami-Istri-di-Bantul-Gratiskan-Makan-untuk-Masyarakat-Terdampak-Bencana.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.