Pemkab Bantul Gelontorkan BTT Rp2 Miliar untuk Tangani Jalan Putus di Srikeminut

Pemkab Bantul akan menggelontorkan sekitar Rp2 miliar untuk perbaikan jalan darurat dan pembuatan tanggul di jalan putus dan longsor Srikeminut

Tayang:
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana/Neti Istimewa Rukmana
Sejumlah siswa di SD Negeri Kedungmiri sedang pulang sekolah dan berjalan kaki melintasi jalan setapak dekat wisata Srikeminut di Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Senin (24/11/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul akan menggelontorkan sekitar Rp2 miliar untuk perbaikan jalan darurat dan pembuatan tanggul di jalan putus dan longsor Srikeminut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan, anggaran yang dipergunakan berasal dari belanja tak terduga (BTT) tahun 2025.

Perbaikan jalan darurat dilakukan karena lokasi tersebut menjadi akses vital bagi masyarakat, terutama untuk anak sekolah dan mobilitas perekonomian masyarakat.

"Wunut itu kan terisolasi. (Masyarakat Wunut yang akan ke Bantul kota) harus muter jauh. Jadi, tahap awal ini, mau kita bikin jalan darurat untuk kendaraan sepeda motor," katanya, Selasa (2/12/2025).

Disampaikannya, perbaikan jalan darurat dilakukan dengan bahan utama bambu. Namun, seiring berjalannya pembangunan jalan darurat itu, Pemkab Bantul juga membuat bangket di sisi selatan dekat Sungai Oya.

"Itu kami bangun secepatnya, mulai bulan ini agar tidak meluas (longsor). Jadi pengerjaan jalan darurat dan tebing sebelah selatan dilakukan berbarengan," tutur Aris.

Lanjutnya, upaya penanganan jalan putus dan longsor tidak hanya berhenti di situ saja. Pemkab Bantul masih akan mendiskusikan penanganan tepat secara permanen bersama para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Nanti, kami akan melihat tekstur tanahnya seperti apa. Itu untuk menentukan perbaikan jalan yang rusak dengan memadatkan atau harus membuat jembatan pada tahun 2026," ujar dia.

Dikatakannya, kajian penanganan jalan secara permanen di Srikeminut itu perlu dilakukan secara mendalam. Nantinya, penanganan permanen dibutuhkan material dan alat berat.

"Kalau penanganan darurat saat ini, pembuatan jalan dari bambu ke arah utara dan melintasi sawah warga, saya kira enggak butuh alat berat," paparnya.

Baca juga: Pemkab Bantul Cari Solusi Penanganan Jalan Putus Dekat Wisata Srikeminut

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Mujahid Amrudin, menyebut, jembatan darurat dari bambu itu bersifat sementara.

"Untuk penanganan konstruksi ini sudah dikoordinasikan minggu kemarin," tutur dia.

Adapun penanganan darurat diberikan agar masyarakat yang berada di Padukuhan Wunut dan Sompok, Kalurahan Sriharjo bisa melintas dengan lebih aman, walau sebelumnya sudah dibuat jalan darurat oleh warga setempat.

Pembangunan jembatan darurat tersebut menjadi salah satu langkah penanganan pada masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor yang ditetapkan Pemkab Bantul, sejak 21 November sampai 5 Desember 2025.

Kata Mujahid, Pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) juga turun melakukan pengerukan sedimentasi yang berada di sebelah selatan tebing Sungai Oya yang longsor tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved