Diskusi BGN dan Kadin DIY: IQ RI Paling Rendah di ASEAN, Ketersediaan Protein MBG Dinilai Kritis 

Konsumsi telur di Indonesia relatif baik, tetapi kontribusi protein hewani lain masih sangat minim. 

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribunjogja.com/IST
Kegiatan Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN) bersama KADIN DIY 

Ringkasan Berita:
  • Badan Gizi Nasional (BGN) bersama KADIN DIY menggelar kegiatan Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG
  • Tim Pakar BGN Bidang Susu Epi Taufik menekankan bahwa rendahnya asupan protein hewani turut menjelaskan capaian IQ nasional yang berada di posisi buncit di Asia Tenggara.
  • Konsumsi telur di Indonesia relatif baik, tetapi kontribusi protein hewani lain masih sangat minim

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tantangan pemenuhan gizi anak Indonesia kembali mencuat dalam kegiatan Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN) bersama KADIN DIY di Hotel D’Senopati, Yogyakarta, Jumat (28/11/2025).

Dalam sesi paparan, Tim Pakar BGN Bidang Susu, Epi Taufik, menekankan bahwa rendahnya asupan protein hewani turut menjelaskan capaian IQ nasional yang berada di posisi buncit di Asia Tenggara.

Epi memaparkan bahwa rata-rata IQ Indonesia masih berada di sekitar 78, sementara hasil pemetaan The International IQ Test (2024) menempatkan Indonesia pada skor 92,64, atau peringkat terakhir dari sembilan negara ASEAN.

Urutannya adalah: Singapura (106,18), Vietnam (101,45), Malaysia (99,55), Thailand (98,46), Myanmar (97,39), Filipina (96,37), Kamboja (95,36), Laos (92,72), dan Indonesia (92,64). 

“Kita ini paling rendah, bahkan di bawah Myanmar, Kamboja, dan Laos,” kata Epi.

Ia menjelaskan bahwa konsumsi telur di Indonesia relatif baik, tetapi kontribusi protein hewani lain masih sangat minim. 

Kondisi ini, menurut Epi, berkaitan langsung dengan angka wasting, nilai PISA, hingga kemampuan literasi siswa.

 “Yang jadi masalah, 80 persen susu dan lebih dari 50 persen daging sapi yang beredar di Indonesia masih impor. Jangan sampai MBG malah memperbesar impor,” ujarnya.

Persoalan pasokan ini membuat pemenuhan protein untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menghadapi kekurangan, terutama pada susu dan daging sapi.

Produksi sapi potong domestik dinilai belum mampu mengejar kebutuhan, sementara industri susu nasional baru memenuhi sekitar seperlima dari total permintaan.

Dalam forum tersebut, perusahaan teknologi pangan asal Malaysia Ultimeat (M) Sdn Bhd memperkenalkan opsi lain melalui produk microprotein berbahan singkong dan gula, yang seluruh bahan bakunya dapat diperoleh dari petani Indonesia.

CEO Ultimeat Edwin Leem mengatakan microprotein mereka diproduksi melalui proses fermentasi satu minggu dan dapat menggantikan protein dari susu maupun daging. 

“Kami tidak menggunakan bahan impor. Semua bisa dibeli dari petani dalam negeri,” ujar Edwin.

Baca juga: Peringati Milad ke-107, Mu’allimin Perkuat Dampak Sosial untuk Masyarakat Kota Yogyakarta

Untuk mendukung kebutuhan MBG, Ultimeat menyiapkan investasi sekitar Rp10 triliun untuk membangun dua fasilitas besar di Lampung dan Malang dan kapasitas lebih kecll di Yogya, total senilai US$300 juta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved