Pengamat UGM: Ganti Kepala BGN Saja Tak Cukup, Sistem Harus Dibenahi

Pengamat politik UGM menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi besar-besaran terhadap BGN, tidak hanya sebatas mengganti pimpinan di level atas.

Tayang:
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
Pengamat Politik UGM, Arie Sujito, saat ditemui di GIK UGM Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) dari Dadan Hindayana kepada Nanik Sudaryanti Deyang dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi sorotan publik. 

Terlebih, Dadan bersama dua mantan wakil kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, saat ini tengah menghadapi proses hukum di Kejaksaan Agung RI terkait dugaan tindak pidana korupsi.

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi besar-besaran terhadap BGN, tidak hanya sebatas mengganti pimpinan di level atas.

Menurut Arie, kritik publik terhadap kinerja BGN selama ini cukup kuat dan menunjukkan adanya berbagai persoalan yang perlu segera dibenahi. 

Ia menegaskan bahwa pergantian kepala dan wakil kepala BGN memang penting, namun langkah tersebut hanya bersifat simbolik apabila tidak diikuti pembenahan sistem hingga ke tingkat bawah.

“Kalau kita lihat secara makro ya, suara publik tentang BGN itu kan sangat kritis. Kalau pemerintah enggak percaya, cek aja di bawah gitu. Itu kan membuktikan banyak sekali problem-problem yang, suka tidak suka, memang harus dibenahi,” ujar Arie pada wartawan di GIK UGM Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Ia menilai pemerintah tidak perlu ragu untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan maupun tata kelola lembaga apabila ditemukan berbagai masalah di lapangan. 

Baca juga: Saran Pakar UGM soal MBG untuk Kepemimpinan Baru BGN

Penataan Sistem

Menurutnya, yang terpenting bukan sekadar pergantian figur pimpinan, melainkan penataan sistem yang lebih menyeluruh.

“Jangan sampai apa, penggantian kepala dan pimpinan BGN ini hanya simbolik saja, pesan simbolik. Yang paling penting adalah perombakan dan penataan sampai ke bawah, karena itulah yang rentan dan rawan yang selama ini ada,” ujarnya.

Arie juga menekankan pentingnya pemerintah, termasuk presiden, kementerian terkait, dan tim pengawas, untuk lebih terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat.

Sebab, menurutnya, informasi mengenai persoalan yang terjadi di tingkat akar rumput sebenarnya tidak sulit untuk diperoleh.

“Mestinya Presiden mendapatkan input soal-soal seperti ini, termasuk kementerian dan tim yang mengawal program. Bukalah telinga, karena banyak sekali problem yang itu tidak terlalu sulit untuk memperoleh informasi di grassroot,” katanya.

Karena itu, Arie berharap momentum pergantian pimpinan BGN tidak berhenti pada perubahan figur semata, melainkan menjadi titik awal perbaikan tata kelola lembaga secara menyeluruh agar berbagai persoalan yang selama ini muncul tidak terus berulang. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved