Kisah Iwenk Menggali Jati Diri Bangsa Lewat Alat Musik Karinding

Ia bercerita bahwa di setiap wilayah, karinding dikonsumsi dan difungsikan dengan cara yang unik.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Instagram @suku_karinding_jogja
Iwenk (32) pelaku seni sekaligus pengrajin alat musik tradisional karinding. (Sumber: Instagram @suku_karinding_jogja) 

Ringkasan Berita:
  • Iwenk (32), pegiat alat musik tradisional, termotivasi oleh filosofi bahwa karinding adalah sarana menggali jati diri bangsa, terlihat dari beragam fungsi budaya dan ritualnya.
  • Ia mendirikan Suku Karinding Jogja (2019) untuk merawat keragaman alat musik ini.
  • Ia menyadari adanya tantangan regenerasi pegiat alat musik tradisional khususnya karinding.
 

TRIBUNJOGJA.COM -- Iwenk, yang kini berusia 32 tahun, adalah seorang pengrajin sekaligus pegiat alat musik tradisional karinding. 

Kecintaannya yang mendalam pada alat musik ini mulai tumbuh sekitar tahun 2014, tepatnya saat ia menempuh pendidikan di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. 

Bagi Iwenk, karinding bukan sekadar alat musik, melainkan sebuah sarana untuk menggali jati diri sebuah bangsa.

Melalui perjalanannya, ia menemukan bahwa karinding memiliki keunikan dan sejarah yang berbeda-beda di setiap daerah, mencerminkan jati diri lokal yang sangat menarik.

Ia bercerita bahwa di setiap wilayah, karinding dikonsumsi dan difungsikan dengan cara yang unik.

Ada yang menggunakannya sebagai bagian dari ritus budaya, seperti upacara Goyong Dewi Sri bentuk rasa syukur kepada dewi padi atau hanya dikeluarkan saat bulan purnama.

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kuriding sebutan untuk alat musik tersebut bahkan dipercaya sebagai alat pelindung dari gangguan macan, sehingga diletakkan di pintu atau di atas ayunan bayi.

Sementara, bagi kaum muda, Iwenk mengamati bahwa karinding bisa menjadi alat pergaulan dalam ranah musik, bahkan ada band modern seperti Karinding Attack.

Proses Iwenk menguasai karinding tidaklah instan, ia menghabiskan waktu satu setengah tahun dalam proses belajar yang penuh tantangan. 

Ia bahkan mengungkapkan betapa sulitnya menemukan teknik memukul yang tepat.

"Sekitar delapan Karinding itu patah pas baru mulai belajar, di karinding yang ke 9 baru bisa,” ujarnya, Selasa, (25/11/2025).

Proses pembuatan alat musik karinding.
Proses pembuatan alat musik karinding. (Instagram @suku_karinding_jogja)

Kesulitan dan kegigihan ini pada akhirnya mendorongnya untuk mencoba membuat karinding sendiri, sebuah langkah penting yang menandai dimulainya perannya sebagai pengrajin mandiri.

Komunitas Karinding di Jogja

Setelah berhasil membuat karinding secara mandiri, Iwenk mengambil langkah penting dengan mendirikan Suku Karinding Jogja pada tahun 2019.

Nama komunitas ini dipilih berdasarkan penemuan yang ia dapatkan selama mendalami alat musik tradisional.

Iwenk  menyadari bahwa setiap etnis atau wilayah memiliki versi karindingnya sendiri. Sebagai contoh, ada genggong di Bali, rinding di Gunung Kidul, hingga kuriding di Kalimantan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved