Indonesia-Australia Perluas Kolaborasi Riset di Jogja, Fokus pada Perubahan Iklim
Lebih dari 200 akademisi, pembuat kebijakan, mitra industri, dan komunitas berdialog terkait kebijakan dampak perubahan iklim
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
“Indonesia ini kepulauan, Australia benua. Cuaca di Indonesia, termasuk Yogyakarta, sangat dipengaruhi Australia. Riset bersama akan membantu kita memahami perubahan iklim yang makin ekstrem dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Tri juga menilai perubahan suhu adalah tantangan nyata yang dirasakan masyarakat Yogyakarta.
“Dulu suhu Jogja 27–28 derajat (Celcius). Sekarang sudah di atas 30 derajat, hampir sama dengan kota-kota besar lain,” katanya.
12 proyek riset baru
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemendiktisaintek, Yos Sunitiyoso, mengungkapkan bahwa tahun ini terdapat 12 proyek riset baru yang berfokus pada transisi energi berkeadilan (just energy transition), termasuk proyek-proyek terkait kendaraan listrik (EV).
“Topik-topik prioritas Indonesia dan Australia, seperti transisi energi dan perubahan iklim, masuk dalam skema KONEKSI. Riset ini harus memberikan manfaat: bagi masyarakat, industri, ekonomi, dan pemerintah,” terangnya.
Yos menilai riset sangat penting untuk menghasilkan kebijakan adaptasi perubahan iklim, termasuk di kota-kota rawan seperti Semarang yang mengalami penurunan muka tanah dan banjir berulang.
“Perubahan iklim bukan lagi isu masa depan. Kita bisa menembus 1,5°C bila semuanya berjalan seperti biasa. Riset sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampaknya,” tegasnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa kerja sama riset Indonesia–Australia bukan hanya bersifat ilmiah, tetapi langsung menyasar persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Mulai dari kesehatan pesisir, keberlanjutan laut, peningkatan kapasitas peneliti, hingga transisi energi dan adaptasi perubahan iklim.
Dengan dukungan pendanaan berkelanjutan dan kolaborasi lintas institusi, kedua negara berharap dapat menciptakan inovasi yang relevan, aplikatif, dan inklusif bagi pembangunan jangka panjang. (Ard)
| Wali Kota Yogyakarta Targetkan Revisi Perda KTR Rampung Oktober 2026, Ini Poin-poin Krusialnya |
|
|---|
| Hari Libur Kenaikan Yesus Kristus, Volume Kendaraan di Ruas Tol Solo-Yogyakarta Meningkat |
|
|---|
| 184 Korban Little Aresha Daycare Melapor ke Help Desk, Pemkot Yogya Kerahkan Pendampingan Spesifik |
|
|---|
| Bahas Masa Depan Rumah Bersejarah dr Sardjito, Wali Kota Yogyakarta Bakal Temui Pihak Keluarga |
|
|---|
| Libur Panjang Akhir Pekan, Volume Kedatangan Penumpang KA di Daop 6 Yogyakarta Meningkat 43 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Indonesia-Australia-Perluas-Kolaborasi-Riset-di-Jogja-Fokus-pada-Perubahan-Iklim.jpg)