Status Siaga Darurat DIY Belum Terbit, BPBD Ingatkan Potensi Longsor hingga Pohon Tumbang
Menurut Noviar, wilayah Yogyakarta telah memasuki masa berisiko tinggi terhadap hujan lebat dan cuaca ekstrem.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Dengan demikian, kegiatan tanggap darurat tidak akan terganggu oleh keterbatasan alokasi dalam anggaran rutin tahunan.
Terkait dengan bantuan bronjong di beberapa daerah yang sebelumnya dianggarkan, BPBD DIY memastikan bahwa pelaksanaannya belum tuntas karena keterbatasan stok.
Pengadaan bronjong baru akan dilakukan kembali dengan memanfaatkan dana BTT jika terjadi bencana.
“Belum semuanya terlaksana, karena realisasinya sesuai jumlah stok yang ada. Sekarang stok kita kosong. Nanti kalau terjadi bencana, maka kita akses dana BTT untuk pembelian bronjong,” ujarnya.
Tahun lalu, menurut Noviar, pengadaan bronjong mencapai nilai sekitar Rp 500 juta, namun saat ini sudah habis terpakai.
“Kemarin juga dari BBWSO sudah mengestimasi sekitar 3.500 unit. Tapi itu nanti kita aksesnya melalui BTT. Jadi ketika ada bencana dan ada kebutuhan bronjong, kita langsung minta BPBD untuk membelikan bronjong sesuai kebutuhan penanganan bencana,” katanya.
Selain dana BTT, BPBD DIY juga telah menganggarkan pengadaan sarana dan prasarana kebencanaan untuk 15 Kelompok Penanggulangan Bencana (Kelpana) pada tahun anggaran 2026.
Program ini merupakan lanjutan dari pengadaan yang telah berjalan sejak tahun 2023.
“Ada, jadi setiap Kelpana itu ada sekitar 15 kelompok. Nanti di tahun 2026 kita anggarkan untuk pembelian sarana-prasarana berupa alat kerja bakti, perlengkapan pengungsian, termasuk chainsaw dan lain-lain,” terang Noviar.
Program ini mencakup seluruh wilayah DIY. Hingga kini, terdapat 358 Kelpana aktif yang tersebar di lima kabupaten/kota.
“Ya, di seluruh DIY. Sebelumnya juga sudah ada yang kita distribusikan di tahun 2023, 2024, dan 2025,” ujarnya.
“Untuk tahap 2026 nanti, jumlahnya 15 Kelpana. Setiap tahun memang ada yang kita berikan,” lanjutnya.
Bantuan diberikan dalam bentuk peralatan fisik, bukan uang tunai.
“Bantuan itu berupa peralatan, seperti cangkul, angkong, linggis, chainsaw, gergaji, tenda, mantel, dan sebagainya. Totalnya ada sekitar 13 jenis peralatan,” jelasnya.
BPBD DIY mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lereng, bantaran sungai, dan kawasan rawan pohon tumbang.
Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2025, dengan potensi peningkatan curah hujan di atas normal. (*)
| Antisipasi Efek Kenaikan Harga Pertamax, Pemda DIY Fokus Mitigasi Daya Beli Masyarakat |
|
|---|
| Harga Pertamax Melonjak, Pemda DIY Siapkan Langkah Mitigasi Daya Beli Masyarakat |
|
|---|
| Humas Pemda DIY Sapu Bersih Empat Penghargaan di GSM Award 2026 |
|
|---|
| Pemda DIY Raih Dua Prestasi, Sri Sultan: Penghargaan Bukan Tujuan Akhir |
|
|---|
| Soal Wacana MBG Gandeng Kantin Sekolah, Ini Tanggapan Pemda DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/BPBD-DIY-Tetap-Siaga-Hadapi-Potensi-Bencana-Hidrometeorologi-Walau-Tak-Tetapkan-Status-Darurat.jpg)