Harga Telur Ayam di Gunungkidul Melonjak, Dipicu Permintaan untuk Program Makan Bergizi Gratis
Berdasarkan pemantauan di pasar, harga telur kini menyentuh Rp30.000 per kilogram, naik dari harga normal Rp27.000 per kilogram.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul mengalami kenaikan signifikan sejak awal pekan ini.
Berdasarkan pemantauan di pasar, harga telur kini menyentuh Rp30.000 per kilogram, naik dari harga normal Rp27.000 per kilogram.
Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ris Heriyani mengatakan kenaikan harga ini terjadi akibat meningkatnya permintaan dari berbagai sektor, salah satunya dari kebutuhan program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di sejumlah sekolah.
“Permintaan telur naik memang cukup tinggi, itu sejak awal Oktober. Salah satu faktornya yang mempengaruhi karena ada tambahan kebutuhan dari program pemerintah yaitu MBG. Hal ini berdampak langsung pada harga ," tuturnya saat dikonfirmasi pada Senin (20/10/2025).
Ia menambahkan akibat lonjakan permintaan akhirnya mendorong kenaikan harga dari tingkat produsen sebelum harga bergerak di pasar eceran.
“Begitu permintaan naik tajam, terutama untuk kebutuhan program pemerintah, produsen merespons dengan penyesuaian harga. Ini mekanisme pasar yang terjadi secara alami,” ujarnya.
Selain kenaikan harga telur, Ris menyebut sejumlah komoditi yang lain juga mengalami kenaikan mulai dari daging ayam, cabai merah, bawang merah, bawang putih, hingga tomat.
"Kenaikan harga komoditi ini juga tidak jauh berbeda karena pengaruh dari permintaan program MBG, terutama ayam yang biasanya Rp36.000 sekarang menjadi Rp40.000," terangnya.
Meski begitu, pihaknya memastikan stok telur di Gunungkidul masih aman.
Dinas menyatakan akan memantau distribusi agar tidak terjadi kelangkaan dan menjaga agar harga tidak terus merangkak naik.
“Kami akan lakukan pengawasan dan berkoordinasi dengan distributor agar pasar tetap stabil. Yang penting tidak ada panic buying,” tambahnya.
Sementara itu, Siti (42), pedagang telur di Pasar Argosari Wonosari, menjelaskan bahwa kenaikan harga sudah terasa sejak pasokan dari pemasok datang dengan harga baru.
“Dari bakul besar sudah ambil di harga Rp29 ribu. Katanya karena banyak permintaan, produsen langsung menaikkan harga. Jadi kami hanya mengikuti,” ujarnya.
Ia menyebut sebagian besar memang pembeli di tempatnya berasal dari borongan penyedia katering dan lembaga yang menangani program MBG, hal ini membuat stok cepat berkurang.
“Biasanya pasokan cukup.Biasanya saya kulakan 3 peti cukup untuk dua hari, sekarang sehari saja sudah habis. Banyak yang beli sehingga produsen merasa barang cepat keluar dan langsung naikkan harga,” katanya.
Dia menambahkan tingginya permintaan telur ayam membuat alur distribusi telur lebih padat dari biasanya.
Pesanan dalam jumlah besar membuat pembeli eceran kesulitan mendapatkan harga lama.
“Ada pelanggan yang kaget karena biasanya beli dua kilo sekarang cuma mampu satu kilo. Tapi karena kebutuhan rumah tangga, mau tidak mau tetap beli,” kata Siti.
Pihaknya pun berharap pemerintah dapat mengatur pola distribusi agar kebutuhan program besar tidak langsung membebani harga di tingkat pasar rakyat.
"Kalau bisa harga bisa kembali stabil karena kalau harganya terus naik seperti ini , kami juga bingung karena modalnya pun jadi besar," urainya. (*)
| Dari 113 Satuan Pelayanan Gizi yang Beroperasi di Bantul, Hanya 11 Memiliki Izin NIB yang Lengkap |
|
|---|
| MBG di Klaten Dievaluasi, Bupati Hamenang Soroti Pengawasan SPPG |
|
|---|
| Program MBG Dinilai Masih Banyak Kelemahannya, DPR RI Suarakan Audit Nasional |
|
|---|
| Harga Hewan Kurban di Gunungkidul Mulai Bergerak Naik, Pasokan Dipastikan Surplus |
|
|---|
| Rektor UII Tak Setuju Kampus jadi Pengelola Dapur MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/komoditas-telur-ayam.jpg)