Kisah Inspiratif

Surga Buku Murah di Bantul, Jelajahi Lorong Harta Karun di Raja Murah

Slogan toko ini sederhana yaitu tidak ada ilmu yang mahal, karena buku adalah sumber ilmu.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
(MG Axel Sabina Rachel Rambing)
Tumpukan buku di Toko Buku Raja Murah, Bantul, DIY, hanya menyisakan lorong sempit untuk pengunjung yang 'berburu' buku murah, Selasa (30/09/2025) 

TRIBUNJOGJA.COM -- Toko Buku Raja Murah terletak di Jl. Mrisi No.10, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Toko ini berdiri sebagai pusat grosir yang juga melayani penjualan buku eceran dengan harga relatif murah.

Selayaknya suasana sebuah gudang, Toko Buku Raja Murah dipenuhi oleh tumpukan buku yang disusun bertingkat-tingkat, bahkan hanya menyisakan lorong sempit untuk menapak kaki.

Deretan buku non-fiksi seperti pelajaran sekolah, biografi tokoh, hingga kamus berbagai bahasa bercampur dengan buku fiksi seperti novel, komik, dan kumpulan cerpen.

Menjelajahi lorong-lorong penuh buku di sini terasa seperti sedang berburu 'harta karun'.

Awalnya, Raja Murah berdiri sebagai pusat grosir buku. Namun seiring waktu, mereka juga melayani penjualan eceran.

Koleksinya beragam, dari buku baru yang masih bersegel hingga buku bekas layak pakai, semua dijual dengan harga yang relatif murah.

Ratusan buku diobral dari harga Rp5.000 hingga Rp10.000, menjadikannya surga bagi para pemburu bacaan murah.

Slogan toko ini sederhana yaitu tidak ada ilmu yang mahal, karena buku adalah sumber ilmu.

Reza, pengelola toko, menjelaskan bahwa harga murah bisa didapat karena sistem pembelian dalam jumlah besar. 

“Kalau memesan bisa satu kontainer, jadi harga saat beli jauh lebih murah. Tidak masalah kalau dijual obral,” katanya Selasa (30/09/2025).

Kebijakan ini membuat Raja Murah digemari banyak kalangan, terutama mahasiswa.

“Buku-bukunya ori dan murah,” ujar seorang mahasiswa sambil menunjukkan empat novel yang baru saja ia beli.

Meski begitu, tren pembelian tidak selalu stabil. Reza mengingat saat pandemi justru lebih ramai lewat pesanan online, sementara ketika kondisi mulai normal, angka penjualan malah menurun. 

Kini, perlahan aktivitas belanja buku kembali meningkat. Ia melihat fenomena tren gaya hidup ikut mempengaruhi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved