Biro PIWPP Setda DIY Telusuri Jejak Gempa di Bukit Mengger Bantul

Biro PIWPP Setda Daerah Istimewa Yogyakarta menelusuri jejak gempa bumi yang terjadi pada 2006 silam

Tayang:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
SESAR JEJAK - Kepala Biro PIWPP Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, didampingi sejumlah pihak sedang foto bersama dalam kegiatan jejak gempa Jogja di dekat Bukit Mengger, Padukuhan Kembangsongo, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Selasa (26/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Biro PIWPP Setda DI Yogyakarta menelusuri jejak gempa bumi yang terjadi pada 2006 silam. 
  • Ini dilakukan di Bukit Mengger, Padukuhan Kembangsongo, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul pada Selasa (26/5/2026).
  • Menurut Kepala Biro PIWPP Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, Bukit Mengger menjadi salah satu wilayah yang tidak terpisahkan dari sesar opak. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan Sekretariat Daerah (Biro PIWPP Setda) DI Yogyakarta menelusuri jejak gempa bumi yang terjadi pada 2006 silam. 

Kegiatan itu dilakukan di Bukit Mengger, Padukuhan Kembangsongo, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul pada Selasa (26/5/2026).

Kepala Biro PIWPP Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, berujar, Bukit Mengger menjadi salah satu wilayah yang tidak terpisahkan dari sesar opak.

Maka kegiatan Jejak Gempa Jogja tersebut menjadi salah satu upaya mengenang dan merefleksikan gempa bumi, sehingga masyarakat diharapkan lebih peduli dan meningkatkan mitigasi bencana sejak saat ini.

"Selain itu, Bukit Mengger juga Geopark Nasional yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Maka selain melakukan refleksi gempa bumi, tentunya kita juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, terkait salah satu lokasi Geopark Nasional Jogja. Lokasi ini perlu dikonservasikan dan perlu ada pemberdayaan masyarakat setempat untuk melestarikan, menjaga lingkungan," ucapnya, kepada Tribunjogja.com.

Peserta kegiatan Jejak Gempa Jogja sendiri didominasi oleh kalangan generasi Z. Kehadiran generasi Z dinilai sebagai bukti masih tingginya ketertarikan terhadap warisan geologi di DIY. 

Keterlibatan ini tidak hanya menjamin terjadinya transfer pengetahuan antargenerasi secara mulus, tetapi juga memastikan bahwa upaya konservasi warisan geologi tetap berjalan beriringan dengan pemberdayaan edukasi di DIY.

"Kami senang kegiatan ini banyak diikuti oleh generasi Z. Kehadiran generasi Z ini sebagai bukti masih tingginya ketertarikan terhadap warisan geologi di DIY. Kami harap, mereka juga dapat menjadi penyalur informasi terkait keberadaan Sesar Opak Bukit Mengger maupun dampak gempa bumi yang terjadi pada 2006 lalu," tuturnya.

Kilas balik 2006 

Sementara itu, Dukuh Kembangsongo, Hermawan, menyampaikan kilas balik kondisi Bukit Mengger yang terjadi gempa bumi pada 2006 silam.

Dampak gempa bumi sempat meluluhlantakkan wilayah di sebelah barat Sungai Opak, sedangkan di timur Sungai Opak atau wilayah Bukit Mengger tidak terlalu parah. Atap-atap rumah di Bukit Mengger hanya runtuh dan tidak terjadi dampak yang signifikan.

"Di daerah Bukit Mengger ini mungkin ada konstruksi tanah yang berbeda dari sisi barat Sungai Opak. Mungkin, kontruksi tanah di Bukit Mengger ini hanya batu dan rawa-rawa. Jadi, dampak gempa itu benar-benar beda. Apalagi, di Bukit Mengger ini hanya cabang bukan sesar utama gempa. Ya meskipun cabang, tapi ditemukan jejak kalau Bukit Mengger pernah ditabrak cabang dari sesar opak," ujar dia.

Beberapa waktu lalu, Bukit Mengger sendiri sempat dirawat oleh masyarakat setempat. Namun, dikarenakan para pengurus tersebut off sementara, maka sempat tidak terawat. Kendati begitu, ke depan pihaknya berencana mengaktifkan kembali para pengurus untuk mengurus Bukit Mengger dengan luas sekitar 15 hektare.

"Di Bukit Mengger ini masih asri. Ada bukit, pohon liar yang tumbuh sendiri, dan ada tanah yang cukup menarik untuk camping. Di sana ada jalan setapak. Jadi, masyarakat masuk ke bukit itu kalau ingin melihat bekas atau jejak cabang sesar opak," papar Hermawan.

Pelaksanaan Jejak Gempa Jogja 2006 ini sendiri dipandu oleh Riset Geotrek Jogja, Nunik Dwi Andriyanti. Ia menjelaskan bahwa secara umum, sesar opak memiliki pergerakan geser ke kiri dan turun. Namun, di Bukit Mengger sendiri ada batuan dan tebing, sehingga bisa dilihat ke mana arah pergerakan sesar opak.

"Memang episentrum gempa tahun 2006 lalu kan di Potrobayan dan itu tidak jauh dari sini (Bukit Mengger). Tapi, lokasi Potrobayan itu kan sungai, jadi dalam ilmu geologi akan susah ditemui jejak pergerakan. Apalagi tipe Sungai Opak sudah sungai tua dan cenderung datar. Maka, kami cari jejak gempa itu di bukit ini," tutup dia.
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved