Sri Sultan HB X Akan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan secara Menyeluruh pada 4 Mei 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dijadwalkan meluncurkan secara resmi program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk seluruh jenjang pendidikan 4 Mei 206
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Pada 4 Mei 2026 nanti, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dijadwalkan meluncurkan secara resmi program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk seluruh jenjang pendidikan di DIY.
- Ini menjadi langkah strategis pemda untuk menguatkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal untuk mencetak individu yang berpedoman pada tata nilai budaya Jawa.
- Menurut Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Sutrisna Wibawa, inisiatif PKJ ini langsung dari visi Gubernur DIY.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X, dijadwalkan meluncurkan secara resmi program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk seluruh jenjang pendidikan di DIY pada 4 Mei 2026 mendatang.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah untuk menguatkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal guna membentengi generasi muda dari gempuran arus globalisasi, sekaligus mencetak individu yang berpedoman pada tata nilai budaya Jawa.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., menjelaskan bahwa inisiatif PKJ ini berakar langsung dari visi Gubernur DIY.
Ideologi dan tata nilai kebudayaan lokal diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan fondasi utama bagi para peserta didik dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang perguruan tinggi.
”Ngarsa Dalem itu kan inspirasi utama dalam Pendidikan Khas Kejogjaan ketika beliau pidato pengukuhan Dr. Honoris Causa tahun 2019 di UNY. Beliau menyampaikan perlu pendidikan berbasis budaya itu diberi 'roh Jogja'. Saat itu beliau menyampaikan 3 filosofi utama yang saya ingat. Pertama adalah Hamemayu Hayuning Bawana. Kedua, Sangkan Paraning Dumadi. Lalu yang ketiga, Manunggaling Kawula Gusti," papar Sutrisna dalam Rembag Kaistimewan dengan tema Pendidikan Khas Kejogjaan : "Keistimewaan Jogja dalam Mendidik Generasi", Jumat (24/4/2026).
Konsep tersebut kemudian digodok oleh Dewan Pendidikan bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY sejak 2020 dan mulai diwujudkan pada 2022.
Sutrisna menambahkan bahwa efektivitas program ini telah terlihat dari hasil uji coba di sejumlah sekolah. Dari pengukuran karakter dengan rentang nilai 1 hingga 5, sekolah-sekolah yang telah menerapkan PKJ mencatatkan rata-rata nilai 4,1 atau masuk dalam kategori sangat baik.
"Nanti kita harapkan setelah proses uji coba ini selesai, kita laksanakan di sekolah, dan insyaallah tanggal 4 Mei nanti Ngarsa Dalem, Bapak Gubernur akan meresmikan PKJ berlaku seluruh DIY. Mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, sampai perguruan tinggi. Dan bukunya sudah siap, termasuk e-booknya yang bisa diunduh," tegas Sutrisna.
Tidak Menjadi Mata Pelajaran Baru
Dalam teknis pelaksanaannya, PKJ didesain bukan sebagai beban akademis tambahan. Kepala Bidang Perencanaan & Pengembangan Mutu Dikpora DIY, Drs. R. Suci Rohmadi, M.I.P., menegaskan bahwa muatan lokal dan pendidikan karakter tersebut masuk dan terintegrasi di dalam kurikulum seluruh mata pelajaran formal.
Tujuan pembentukan ekosistem sekolah ini berpusat pada penciptaan manusia dengan karakter khas Yogyakarta.
"Makanya kita harapkan tujuan kita mereka menjadi generasi yang berkarakter ke-Jogja-an. Namanya kan Pendidikan Khas Kejogjaan, kita berharap punya generasi berkarakter Jogja atau Jalma Kang Utama tadi. Manusia yang berbudi pekerti luhur, berkarakter, dan bertanggung jawab," ujar Suci.
Praktik baik dari integrasi tersebut telah berjalan di SD Negeri Kasihan, Kabupaten Bantul, yang menjadi salah satu sekolah model (uji coba) sejak akhir tahun 2023. Kepala Sekolah SD N Kasihan, Harsiana Wardani, M.Pd., menjabarkan bahwa sekolahnya memperkuat dua pilar utama yakni internalisasi karakter yang diintegrasikan ke seluruh program, dan penciptaan atmosfer lingkungan sekolah berbasis literasi budaya.
Salah satu program unggulan yang diterapkan secara holistik di sekolah tersebut adalah budaya NGAJENI, yang dirumuskan ke dalam akronim tata perilaku dan tutur kata sopan santun warga sekolah.
"Jadi PKJ ini bukan mata pelajaran baru, bukan mata pelajaran tambahan, terintegrasi ke seluruh mata pelajaran. Dan yang menjadi fokus utama PKJ di SD Kasihan adalah budaya NGAJENI. NGAJENI itu bukan cuma arti menghormati orang lain, tetapi itu akronim, singkatan. NGAJENI itu NGAPURANCANG. Kemudian JEMPOL, jadi jempolnya yang untuk ngacung ketika di kelas. Selanjutnya yakni NUWUN SEWU. Lalu NYUWUN PANGAPUNTEN, NDHEREK LANGKUNG, MATUR NUWUN, MONGGO, lan INJIH. Jadi singkatan, ejaan dari kata-kata itu," jelas Harsiana.
| Gelaran Kartini KBC 2026 Yogyakarta, Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas |
|
|---|
| Ubah Wajah Bantaran, Warga Ingin Normalisasi Sungai Winongo Jadi Pintu Masuk Destinasi Wisata Baru |
|
|---|
| Performa Cahya Supriadi saat PSIM Yogyakarta Tahan Persija Dapat Pujian Jean-Paul van Gastel |
|
|---|
| Jogja Financial Festival 2026 Jadi Medium Strategis Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan di DIY |
|
|---|
| Tren Belanja Produk Ibu dan Bayi Meningkat, Toko Terkurasi Mulai Sasar Pasar Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Diskusi-Pendidikan-Khas-Kejogjaan-PKJ-jelang-peluncuran-oleh-Gubernur-DIY-Sri-Sultan-HB-X.jpg)