Kampus Berdampak, Memperkuat Kontribusi Kemanusiaan

UGM membentuk Emergency Response Unit sebagai bentuk tanggung jawab institusional terhadap kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Sebanyak 8.038 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pengabdian Masyarakat (KKN-PPM) yang terdiri atas 287 unit akan diterjunkan di 35 provinsi, 122 kabupaten/kota, dan 236 kecamatan di Indonesia pada 20 Juni hingga pertengahan Agustus mendatang. Penerjunan mahasiswa KKN PPM UGM periode 2 tahun 2025 ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan salah satu persyaratan mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana. 

Untuk menyikapi situasi tersebut, UGM berupaya untuk membangun ekosistem riset dan inovasi dengan mengorkestrasi berbagai komponen.

Hal ini dimulai dari menetapkan flagship penelitian, memperkuat kelembagaan riset, memperbaiki sarana prasarana riset, dan membangun jejaring kemitraan riset seperti MIT REAP, Kedaireka, ADB, Primestep, dan PUAPT. 

Selain itu, UGM juga memperkuat siklus riset ke hilirisasi mulai dari pengujian produk, penguatan R&D dan inovasi, fabrication laboratories, hingga katalisasi pengembangan kewirausahaan dan inovasi melalui UGM Science Technopark, dan pengembangan Intelectual Property Management Office (IPMO).

Siklus tersebut diharapkan mampu membentuk ekosistem inkubasi dan akselerasi dengan luaran industrialisasi produk. 

Perjalanan UGM hingga berusia 76 tahun ini tidak hanya melahirkan tokoh kepemimpinan bangsa dan para penggerak pembangunan sosial ekonomi di berbagai bidang, tetapi juga melahirkan berbagai karya riset dan inovasi yang dibutuhkan industri.

Di bidang energi, UGM berhasil mengembangkan inovasi untuk sumber alternatif Energi Baru Terbarukan (EBT) Biodiesel dan Bioetanol dalam kawasan hutan, yakni pengembangan bioetanol dari tanaman sorgum dimana 100 ml air gula sorgum tersebut dapat menghasilkan 60 ml bioetanol lalu 3 batang tanaman sorgum bisa menghasilkan 100 ml air gula sorgum.

Selanjutnya di bidang pangan, inovasi UGM telah menghasilkan berbagai komoditas pangan dan pengolahan melalui label Gamafood.

Di bidang teknik, berbagai inovasi juga telah dilahirkan dan diserap industri.

Sementara itu, di bidang sosio humaniora, berbagai engineering kebijakan dan penguatan fondasi masyarakat semakin meneguhkan relevansi kampus terhadap tantangan sosial.

Khususnya, di bidang inovasi kesehatan dan farmasi, UGM di antaranya berhasil melakukan hilirisasi produk seperti Rapid Assessment Diabetic Retinopathy (RADR), RZ-VAC (Vacuum Assisted Closure), Dental SilkBon, Divabirth, Aphrofit, dan Konilife Memora. Lalu ImunoGama  Konilife Memora, Essonina, OST-D, Hesdrink.

Untuk publikasi internasional, tercatat sebanyak 1.825 publikasi yang didominasi artikel jurnal dengan melibatkan 690 kolaborasi internasional.

UGM terus mendorong riset yang melibatkan kolaborasi termasuk kolaborasi dengan peneliti yang berasal dari berbagai institusi dan negara yang berbeda.

 Pasalnya, kolaborasi riset berpotensi untuk meningkatkan visibilitas dan dampak hasil riset yang lebih besar di komunitas ilmiah serta membantu peneliti untuk menyajikan solusi yang lebih komprehensif dan efektif. Setidaknya, UGM memiliki 12 Jurnal yang sudah terindeks di SCOPUS untuk mendukung peningkatan kuantitas dan kualitas publikasi UGM.

Capaian publikasi dan sitasi berdampak pada reputasi dosen di tingkat internasional.

 “Kita cukup berbangga, di tahun ini, 14 Dosen UGM Masuk Top 2 persen World Scientist 2025 dirilis oleh Stanford University, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 7 dosen,” katanya.

Untuk hilirisasi dan komersialisasi riset, UGM juga melakukan penguatan dan pengawalan inovasi dengan tingkat kesiapan teknologi dimana adanya penerimaan royalti dari hasil Inovasi produk yang diadopsi oleh Mitra Industri seperti Pengiriman tahap pertama 10 ton Benih Gamagora ke PT. Agrinas, Hilirisasi Ventilator Venindo, dan Makloon Coklat UGM CTLI untuk ATJ dan Tokyo Food.

 “Untuk padi Gamagora, produksi benih sudah mencapai 28,6 ton yang tersebar di 15 kabupaten dan kota diseluruh Indonesia,” ungkapnya.

Pengabdian kepada Masyarakat

Menjadi Universitas Berdampak juga menyangkut bagaimana memberdayakan masyarakat.

Di arena ini, UGM mengembangkan pengetahuan tepat guna melalui program pengabdian dan KKN-PPM atau KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat yang menjadi bagian dari program inklusif berdampak bagi masyarakat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

Sepanjang tahun 2025 ini, UGM telah menerjunkan sekitar 9.242 Mahasiswa ke 35 Provinsi, 28 Kabupaten/ Kota dan lebih dari 500 Desa/Kelurahan.

Program ini juga berhasil memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Kagama untuk pengembangan inovasi maupun peningkatan advokasi sosial sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat.

KKN-PPM bahkan sudah mendapatkan apresiasi dari Presiden Timor Leste dan berbagai mitra KKN-PPM sebagai keunggulan akademik UGM dan dapat direplikasi secara internasional.

 Internasionalisasi program pendidikan maupun pengabdian masyarakat di perguruan tinggi tidak terlepas dari peran digitalisasi teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan bentuk nyata globalisasi yang ditopang oleh perkembangan teknologi.

Di akhir pidato, Rektor Ova menegaskan usaha kolektif yang bersifat kelembagaan dalam penguatan pendidikan, riset, publikasi dan reputasi alumni tercermin dalam hasil pemeringkatan QS WUR UGM yang pada tahun 2026 dimana UGM berhasil mencapai peringkat ke-224 dunia.

Capaian reputasi ini berarti bahwa UGM mengalami lompatan sebesar 15 tingkat dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, indikator Academic Reputation, yang menjadi salah satu komponen utama dalam QS WUR, juga berhasil naik 11 peringkat menjadi peringkat 134 dunia. 

Sementara di pemeringkatan QS Sustainability Ranking 2026, UGM berhasil menduduki peringkat pertama di Indonesia dan peringkat 409 di tingkat global.

Capaian ini mencerminkan upaya UGM yang berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial.

“Terima kasih kepada seluruh sivitas universitas dan semua pihak yang telah memberikan kontribusi positif bagi pengembangan UGM. Kita selalu berupaya untuk membangun kemandirian. Namun, translasi kemandirian bangsa ini tentu memerlukan upaya kolektif kita semua sebagai bangsa dan negara,” terangnya. 

Untuk mengantisipasi perkembangan masa depan, UGM berkomitmen untuk memperkuat kapabilitas dinamis dan mengubah budaya dari Teaching Culture menjadi Research and Innovation Culture.

Ova menekankan beberapa komitmen UGM untuk menggiatkan program strategis dan mendukung perubahan budaya baru yang berdampak bagi pembangunan bangsa.

Pertama, meningkatkan kualitas lulusan berdaya saing global. Kedua, menggiatkan ekosistem riset, inovasi, dan hilirisasi untuk mewujudkan kemandirian bangsa.

Ketiga, menggiatkan program pengabdian masyarakat berbasis “Socio-techno Innovation”. Keempat, memperkuat ekosistem pendukung tridarma dengan mewujudkan green campus dan intelligent university secara berkelanjutan. 

Dengan sejumlah program yang telah dirancang dan dijalankan, UGM berharap mampu meneguhkan posisi diri sebagai enabler pembangunan SDM dan pengembangan teknologi masa depan.

Melalui semangat, “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan”, UGM memiliki harapan menjadi perguruan tinggi yang senantiasa mempersembahkan karya pendidikan, penelitian, dan pengabdian dengan berorientasi pada kepentingan masyarakat, mendukung kedaulatan bangsa, serta mendorong pembangunan berkelanjutan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved