Anggaran Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta Menipis, Legislatif: Buka Kran Investasi
Membuka kran investasi dengan melibatkan swasta dalam proses pengelolaan sampah dianggap jadi solusi
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kalangan legislatif menyoroti polemik sampah di Kota Yogyakarta yang kembali mencuat selepas libur panjang sekolah.
Eksekutif pun didorong membuka kran investasi dari swasta, karena kekuatan APBD yang ada sekarang tak memungkinkan untuk menyelesaikan problem persampahan.
Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Wisnu Sabdono Putro, menyampaikan, dalam waktu dua pekan ke depan TPA Piyungan bakal ditutup total dan tidak menerima pembuangan lagi.
Sehingga, ketika tumpukan sampah di depo-depo besar di Kota Pelajar belum mampu tertangani, kondisinya dipastikan akan semakin parah.
"Sebenarnya ini mulai krisis sampah. Kalau tidak melibatkan swasta, ini akan kesulitan. Karena kondisi sekarang masih banyak sampah yang tertahan di depo," katanya, Jumat (18/7/2025).
Menurutnya, Pemkot Yogyakarta tidak boleh membiarkan fenomena tersebut, karena tidak lama lagi dampaknya berpotensi merugikan banyak pihak.
Sehingga, membuka kran investasi dengan melibatkan swasta dalam proses pengelolaan sampah dianggap jadi solusi untuk menanggulanginya.
"Karena untuk menambah mesin insinerator juga tidak mungkin ya, anggarannya terbatas. Jadi, yang bisa dilakukan hanya bekerja sama dengan swasta," ungkap politikus PDI Perjuangan itu.
Baca juga: Jogja Life Cycle Sulap Sampah Plastik Jadi Aneka Perabotan dan Kerajinan Bernilai Ekonomi
Wakil Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Sinarbiyat Nujanat, menambahkan, selama ini eksekutif terlalu mengandalkan APBD untuk menyelesaikan problem persampahan.
Mulai dari pengadaan teknologi dan mesin-mesin pembakar sampah atau insinerator, hingga ratusan gerobag sampah untuk para transporter.
"Pak Wali juga sempat menyampaikan, bahwa pengadaan mesin sudah tidak dimungkinkan dengan situasi kemampuan keuangan daerah saat ini. Sehingga, harapannya peran swasta bisa ikut membantu," tandasnya.
Sementara, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengakui, pemerintah harus memutar otak untuk menormalisasi kembali kondisi persampahan di wilayahnya.
Pasalnya, selain kuota pembuangan menuju TPA Piyungan yang semakin sempit, kapasitas yang dimiliki unit pengolah sampah di Kota Yogyakarta pun belum bisa menjangkau seluruhnya.
"Kalau kita tidak mempunyai jurus baru, untuk menuju normal lagi itu sulit. Makanya, kita harus mempunyai jurus baru," terang Hasto.
Bukan tanpa alasan, kerja sama dengan pihak swasta yang bergerak di sektor pengolahan sampah di luar daerah pun tidak dapat diandalkan kembali oleh Pemkot Yogyakarta.
Pemkot Yogyakarta Bangun Sistem Satu Data, Intervensi Program Lebih Tepat Sasaran |
![]() |
---|
Dana Transfer Daerah 2026 Berpotensi Dipangkas Rp200 Miliar, Wali Kota Yogyakarta: Ada Refocusing |
![]() |
---|
Jadi Tuan Rumah Forum Smart City Nasional 2025, Kota Yogyakarta Dorong Realisasi Program Satu Data |
![]() |
---|
Pemkot Yogyakarta Optimis Paket Strategis 2025 Bisa Diselesaikan Tepat Waktu |
![]() |
---|
177 Suporter Persib Bandung Dipulangkan PascaKericuhan, Pemkot Yogyakarta Pastikan Situasi Kondusif |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.