Wapres Gibran Lihat Cara Drone Canggih Mudahkan Kerja Petani di Sleman

Gibran Rakabuming Raka, melihat pengoperasian drone canggih, pengembangan dari Pupuk Indonesia yang membuat kerja petani lebih mudah

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja / Ahmad Syarifudin
GIBRAN MELIHAT: Wapres Gibran melihat layar yang menampilkan informasi pemetaan lahan yang dicapture drone, pada lahan pertanian tebu di sela kegiatan rembuk tani di Berbah, Kabupaten Sleman, Selasa (8/7/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melihat pengoperasian drone canggih, pengembangan dari Pupuk Indonesia yang membuat kerja petani lebih mudah, ketika menghadiri panen tebu dan Rembuk Tani di Kabupaten Sleman, selasa (8/7/2025). 

Wapres menyebut mekanisasi penting untuk menggenjot produktivitas pertanian. 

"Untuk peningkatan produksi tentu kita tidak bisa lepas dari mekanisasi, alat-alat modern. Ini ada demo penggunaan drone, saya kira baik sekali," kata Gibran. 

Setiap kunjungan kerja di lapangan bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menurutnya yang diminta dari petani adalah alat-alat pertanian. Ia mencotohkan saat kunjungan ke Kabupaten Ngawi, petani meminta combine harvester atau mesin panen padi. 

"Sedikit mahal tapi harus kita sediakan, agar produksi terus meningkat," kata Gibran. 

Adapun dalam kegiatan Rembuk Tani tersebut, Putra Sulung Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo itu melihat demontrasi penggunaan drone pemetaan dan drone pemupukan. Dua pesawat nirawak tersebut bisa digunakan untuk membantu pada lahan pertanian tebu, padi maupun jagung. 

Menurut Gibran, penggunaan teknologi drone sangat penting. Mengingat cuaca saat ini tidak menentu. Apalagi ditambah banyaknya tantangan yang dihadapi petani seperti hama maupun beragam tantangan lainnya sehingga perlu disikapi dan ditindaklanjuti dengan alat yang modern. 

"Jadi mekanisasi itu penting sekali untuk meningkatkan produktivitas juga," katanya. 

Researcher atau Peneliti PT Pupuk Indonesia, Handono Rahmadi mengatakan, ada dua drone yang kini digunakan untuk teknologi smart farming yaitu drone pemetaan dan drone pemupukan. Cara kerjanya, drone pemetaan terbang membawa kamera diatas lahan untuk meng-capture informasi kondisi hara tanah yang ditampilkan dalam indikasi warna merah, hijau dan biru. 

"Merah artinya paling bagus. Hijau justru artinya kekurangan pupuk, tanahnya stres. Apalagi yang biru sangat kekurangan," katanya. 

Hasil pemetaan tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi AI atau Artificial Intellegence. AI akan membuat model prediksi hara, yang memungkinkan memberi pengetahuan kondisi hara di area tanah tersebut. Informasi tersebut akan dikonversi menjadi dosis kebutuhan pupuk yang harus diaplikasikan. 

Dosis pupuk tersebut diinput ke dalam sistem drone pemupukan. Maka drone pemupukan akan bergerak sesuai informasi yang diinput. Alur drone akan mengikuti sesuai yang telah dipetakan ke dalam sistem. 

"Termasuk rate pemupukan akan mengikuti. Targetnya lebih hemat, karena sesuai kebutuhan," kata Handono. 

Drone tersebut telah diujicoba di lahan pertanian di Malang dan Subang. Hasilnya dapat meningkatkan produktivitas sebesar 10,39 persen dan mampu menghemat pupuk hingga lebih kurang 15 persen. 

Produksi bisa meningkat karena drone tersebut mampu memberikan informasi berapa kebutuhan pupuk yang harus diberikan pada tanaman. 

"Jadi yang kurang (pupuk) justru akan kita maksimalkan. Selama ini petani (saat pemupukan) tidak melihat mana yang kurang, hanya kelihatan yang penting rata saja," jelas dia.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved