Misteri Api di Rumah Warga Sleman

BPBD Sleman Libatkan Akademisi Tangani Fenomena Kebakaran di Seyegan untuk Jamin Keamanan

Bambang Kuntoro mengatakan ada 11 potensi ancaman bencana di Kabupaten Sleman, salah satunya kebakaran hutan dan lahan.

Tayang:
Tribun Jogja/HENDY KURNIAWAN
RISET - Foto dok ilustrasi. Riset lanjutan digelar sejumlah pihak di Kali Konteng, tepatnya di bawah Bendung Selokan Gembung Krusuk, Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026).  

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman melibatkan seluruh stakeholder untuk menangani fenomena munculnya titik api dan kebakaran misterius di Kasuran, Seyegan, Sleman

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan ada 11 potensi ancaman bencana di Kabupaten Sleman, salah satunya kebakaran hutan dan lahan.

Antisipasi kebakaran lahan

Fenomena yang terjadi di Kasuran, Seyegan disebut potensi kebakaran hutan dan lahan.

"Nah, kita belum tahu sebabnya apa, kita bicara pentahelik. Pentahelik itu ketika ada permasalahan terkait dengan bencana semua bergerak. Baik pemerintah, kemudian akademisi dengan keilmuannya, keahliannya dari UGm kemudian UPN, BPPTKG, kemudian masyarakat, semuanya saling membantu," katanya, Selasa (2/6/2026).

Butuh akademisi

Ia menyebut pelibatan akademisi menjadi bagian penting lantaran BPBD tidak memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan dapat diketahui secara pasti penyebabnya. Di samping itu, pelibatan akademisi juga diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.

"Kalau bicara BPBD, kita bukan lex specialis untuk hal-hal seperti itu. Ada ahlinya yang nanti bisa merumuskan, menentukan, menemukan apa tuh penyebabnya. Sehingga tenanglah masyarakat itu, aman, nyaman, nggak usah panik," ujarnya.

Bambang menambahkan untuk saat ini warga yang mengungsi masih keluarga Agus Yani. Sementara warga lainnya belum ada yang dilaporkan mengungsi karena fenomena kebakaran di Kasuran.

"Kalau pengungsi sekarang ya keluarganya Mbak Fia aja, keluarganya, dengan ayahnya (Agus Yani)," imbuhnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved