Mengenal Cara Kerja Kalkulator Zat Besi untuk Mengetahui Defisiensinya pada Anak

Kekurangan zat besi atau defisiensi zat besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Kondisi ini perlu mendapat

Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
Instagram @asmirandah89
ILUSTRASI - Ibu dan anak 

TRIBUNJOGJA.COM - Kekurangan zat besi atau defisiensi zat besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. 

Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena berisiko menghambat kemampuan kognitif serta tumbuh kembang optimal anak. 

Namun, fakta menunjukkan 1 dari 3 anak Indonesia berisiko kekurangan zat besi, karena tidak mengkonsumsi makanan kaya Zat Besi. 

Bahkan, sebuah survei juga menunjukkan bahwa 50 persen, ibu tidak tahu bahwa kekurangan Zat Besi dapat berdampak pada kepintaran anak. 

Bagaimana cara mengecek kekurangan zat besi pada anak? Ternyata, kini ibu bisa menggunakan aplikasi Alfagift yang memiliki Kalkulator Zat Besi.

Fitur tersebut telah diluncurkan Alfamart dan SGM Eksplor beberapa waktu lalu.

Berikut fakta lengkapnya:

1. Alat non-medis

Kalkulator Zat Besi merupakan alat bantu non-medis pertama di Indonesia yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko kekurangan zat besi pada anak. 

Dengan waktu hanya kurang dari 3 menit, hasil evaluasinya dapat diketahui secara praktis dan mandiri. 

Kalkulator Zat Besi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai alat pemantauan berkala sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan.

Dokter Spesialis Anak, dr. Melia Yunita, MSc, SpA mengatakan, dalam 5 tahun pertama kehidupan anak, perkembangan otak anak terjadi secara signifikan sehingga penting untuk memastikan asupan nutrisi lengkap untuk dukung kemampuan kognitif anak termasuk salah satunya mikronutrien zat besi

Selain sangat berperan dalam pembentukan hemoglobin (sel darah merah), sistem imun tubuh, membangun pertumbuhan otot, zat besi juga dibutuhkan untuk mengoptimalkan koneksi antar sel saraf dan pembentukan neurotransmitter yang mendukung kemampuan dan proses belajar anak. 

“Namun sayangnya, masih banyak orang tua yang tidak menyadari peran penting pemenuhan asupan zat besi, bahkan cenderung mengabaikan gejala kekurangan zat besi yang jika dibiarkan akan berdampak pada penurunan fokus/kosentrasi dan memori, lebih pasif karena gejala letih atau lesu, gangguan perilaku, sosio-emosional, perkembangan motorik dan juga lebih rentan sakit, sehingga nantinya dikhawatirkan dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dan prestasi anak,” kata dia.

2. Upaya pemenuhan nutrisi lengkap

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved