Mimpi Punya Rumah di Yogyakarta
Gen Z di Bantul Ogah KPR, Ada yang Pilih Sewa Rumah
Harga rumah lewat KPR sebenarnya lumayan terjangkau, akan tetapi lokasinya tidak strategis.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Baru-baru ini, banyak generasi Z yang enggan memilih kredit pemilikan rumah (KPR) dikarenakan sejumlah hal. Mereka, lebih memilih untuk menunda KPR, demi mencukupi kebutuhan lainnya.
Satu di antaranya dirasakan oleh Intandari (28), warga Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul. Intan, sapaan akrabnya, mengaku tidak memilih KPR dan lebih memilih untuk menutup kebutuhan lain.
"Sebenarnya, keinginan punya rumah pasti ada. Tapi, kalau niatan beli dalam waktu dekat sepertinya belum. Apalagi saat ini kan gaji saya masih kecil, masih standar upah minimum kabupaten lah," katanya kepada Tribunjogja.com, Senin (7/4/2025).
Disampaikannya, harga rumah lewat KPR sebenarnya lumayan terjangkau, akan tetapi lokasinya tidak strategis. Di lain sisi, Intan memiliki kesibukan di area perkotaan, mengingat tengah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Bantul.
"Ya denger-dengar juga, kalau mau KPR yang murah itu ada plus minusnya. Kalau lihat-lihat di brosur gitu, ada yang tempatnya kecil. Trus ada juga yang sumber mata air atau bangunannya rentan. Kan jadi mikir-mikir ya," ujar dia.
Kendati demikian, saat ada rezeki yang cukup dan uang yang cocok dengan harga jual unit rumah tidak tinggi, tidak menutup kemungkinan bagi Intan membeli rumah.
Namun, rumah yang dibeli tersebut adalah rumah non KPR.
"Milih produk non KPR itu bukan karena saya nilai KPR ribet ya. Tapi, lebih ke kebutuhan masing-masing aja. Kalau sanggupnya KPR ya kenapa enggak, tapi kalau pengen yang lebih ya pasti, lebih worth it, ya non KPR," ucapnya.
Lanjutnya, Intan menilai bahwa jual rumah di Yogya saat ini cenderung semakin tinggi. Rata-rata berada di atas Rp500 juta. Dengan harga segitu, disebut baru sesuai dengan proper atau keinginan.
"Rumah tuh kayak cita cita, jadi pengennya yg bagus sekalian. Cucok atau nggak sama harganya, sebenernya ya tergantung sama kondisi properti rumah yang ditawari sih," jelasnya.
Selain itu, ia juga memiliki rumah idaman berkonsep minimalis tapi cozy living dengan lokasi tidak di area jarang penduduk atau tidak di pelosok. Impian itu juga distarakan dengan tingkat keamanan saat tinggal di rumah.
Senada, Mayangsari (27), warga Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, menyebut, ia lebih mempertimbangkan untuk sewa dibandingkan memeli rumah dalam waktu dekat ini.
"Ya, sebentar lagi kan saya mau nikah ya. Tapi, karena gaji saya sama gaji calon suami saya belum begitu cukup untuk KPR, ya kami milih untuk sewa rumah dulu lah," paparnya.
Menurutnya, finansial menjadi salah satu faktor utama yang sangat penting. Alih-alih mencari KPR, ia bersama calon suami juga sibuk untuk mencari rezeki dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.
"Ya gimana ya. Saya itu kalau sudah sah nikah, enggak mau tinggal sama mertua. Jadi, pilih sewa rumah yang dekat sama tempat kerja dan gaji dari kerjaan itu lebih penting untuk kebutuhan sehari-hari sama masa depan," tutur Mayang.
| Cerita Pejuang KPR di Jogja Lunasi Cicilan Rumah: Berat Kalau Hanya Andalkan Gaji UMR Jogja |
|
|---|
| Permintaan KPR ke REI DIY Turun Sekitar 20 Persen |
|
|---|
| Kisah Pejuang KPR di Tengah Kenaikan NPL: Cicilan Tetap Jalan Walau Nafas Tersengal |
|
|---|
| Dilematisnya Pejuang KPR di Jogja, Antara Ekonomi Lesu dan Harga Rumah yang Tak Terjangkau |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-rumah-subsidi.jpg)