Hikmah Ramadan 1446 H
Lakukanlah Sesaat Demi Sesaat
Ada kisah menarik tentang sahabat sekaligus juru tulis Nabi Muhammad SAW yang bernama Hanzhalah At-Tamimi Al-Usayyidi.
Oleh: Mucharom SAg MSI, Kepala Madrasah Aliyah Negeri 4 Bantul
TRIBUNJOGJA.COM - Ada kisah menarik tentang sahabat sekaligus juru tulis Nabi Muhammad SAW yang bernama Hanzhalah At-Tamimi Al-Usayyidi.
Kisahnya yang mengaku telah jadi munafik di hadapan Abu Bakar dan Rasulullah sangat masyhur dan seringkali dijadikan sebagai salah satu dalil ber-muhasabah.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits nomor 2750. Hanzhalah berkata, "Abu Bakar pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, 'Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?' Aku menjawab, "Hanzhalah kini telah jadi munafik”.
Abu Bakar berkata, "Subhanallah, apa yang engkau katakan?". Aku menjawab, "Kami jika berada di sisi Rasulullah SAW teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasulullah SAW dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa." Abu Bakar menjawab, "Kami pun begitu."
Kemudian aku dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah SAW, lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa."
Rasulullah SAW bersabda, "Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau terus menerus dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat." Beliau mengulanginya sampai tiga kali.
Level iman kita yang jauh dari level iman shahabat Handzalah dan Abu Bakar, pasti mengalami futhur, yaitu penyakit hati yang menghambat semangat beribadah.
Jika kita di masjid atau di bulan Ramadan terasa sekali iman kita meningkat, semangat beribadah selalu menyala, namun bila kita sudah di luar masjid, di luar Ramadan terasa sekali iman kita redup bahkan padam.
Bagaimana agar iman istiqomah setidaknya terjaga? Rasulullah memberikan solusi dengan jawaban yang cerdas “Lakukanlah sesaat demi sesaat”.
Semua ada haknya, maksudnya, sesaat untuk Rabb Azza wa Jalla, sesaat untuk anak-anak dan keluarga, sesaat untuk bekerja, sesaat istirahat untuk diri sendiri dan sesaat bekerjasama dengan orang lain. Inilah sisi keadilan dan kesempurnaan syariat islam.
Kisah Handzalah juga mengajarkan pada kita, pertama bertemanlah dengan orang sholih.
Handzalah berteman dengan Abu Bakar dan Rasulullah SAW pribadi yang level keimanananya lebih tinggi pada Allah SWT .
Kedua sering-seringlah bermuhasabah, Imam Ghozali di kitab Ihya Ullumuddin memaknai muhasabah adalah proses evaluasi diri atas perbuatan yang telah dilakukan sehingga termotivasi untuk memperbaiki hubungan diri dengan Allah dan memperbanyak amal kebaikan.
Hasil muhasabah Sahabat Handzalah dengan level imannya yang tinggipun masih menilai dirinya seorang munafiq, bagaimana dengan kita?. Selamat ber-muhasabah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mucharom-kemenag.jpg)