Ubo Rampe Tradisi Labuhan Gunung Lawu Kraton Jogja
Upacara Labuhan digelar satu hari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 Rejeb.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com --- Keraton Yogyakarta mengelar tradisi acara labuhan di berbagai tempat di tanah Jawa.
Setiap tahun, Upacara Labuhan digelar satu hari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 Rejeb.
Di wilayah Yogyakarta, labuhan dilaksanakan di pantai Selatan dan Gunung Merapi.
Keraton Yogyakarta juga menggelar tradisi Labuhan di Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Utusan dari Keraton Yogyakarta, Pengageng II, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Rintaiswara, menjelaskan bahwa tradisi Labuhan di Gunung Lawu diikuti oleh 11 orang.
"Gunung Lawu memiliki sejarah akan jumenengan Dalem (Sri Sultan Hamengkubuwana X).
Di luar itu, terbentuknya keraton ada kaitannya dengan Karanganyar," ungkap KRT Rintaiswara di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, dilansir dari kompas, Kamis (31/1/2025).
Prosesi ini merupakan napak tilas serta wujud syukur dan permohonan.
Selain di Gunung Lawu, KRT Rintaiswara menambahkan, mereka juga akan melaksanakan labuhan di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Gunung Merapi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
• Ribuan Orang Padati Pantai Parangkusumo Saksikan Upacara Labuhan Keraton Ngayogyakarta
Bupati Karanganyar, Timotius Suryadi, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kerja sama berkelanjutan antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Keraton Yogyakarta.
Ia menekankan bahwa labuhan ini merupakan langkah strategis untuk terus meningkatkan kerja sama antara pemkab dengan Keraton Yogyakarta.
"Ini adalah bagian dari upaya kita memayu hayuning bawana (mengalir dalam hembusan alam), tetap menghargai dan menghormati sejarah yang sudah ada," jelas Timotius Suryadi.
Labuhan Lawu
Dikutip dari web keraton Yogyakarta, Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat pengasingan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1478, Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kerajaan Kaling.
Karena tentara Majapahit tidak mampu menghalau serangan tersebut, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk menyingkir ke Gunung Lawu dan hidup menjadi seorang pertapa dan bergelar Sunan Lawu.
Prabu Brawijaya V merupakan leluhur dari pendiri kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta sehingga sebagai bentuk penghormatan, Gunung Lawu dipilih menjadi lokasi upacara labuhan.
Gunung Lawu terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setiap dilaksanakan Upacara Labuhan, uborampe labuhan diserahterimakan kepada Juru Kunci Gunung Lawu yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Macam-macam uborampe yang diperlukan pada upacara Labuhan Gunung Lawu adalah sebagai berikut :
Kasepuh
Sinjang Limar
Semekan Gadhung Mlathi
Kampuh Poleng Ciut
Dhestar Banguntulak
Paningset Jingga
Kaneman
Semekan Gadhung Mlathi
Kampuh Poleng Ciut
Dhestar Banguntulak
Paningset Jingg
Pendherek
Sinjang Cangkring
Semekan Gadhung
Semekan Dringin
Semekan Songer
Semekan Teluh Watu
Semekan Jambin
Songsong Pethak Seret Praos
Sela, ratus, lisah konyoh
Yatra Tindhih. (Tribunjogja.com/kompas)
| Pakar Gizi Unisa Ungkap Bahaya Kantong Kresek Buat Daging Kurban: Mengandung Zat Karsinogen |
|
|---|
| Roadshow ANTARIKSA UNISA Yogyakarta Edukasi Bahaya Judi Online di SMAN 1 Sedayu |
|
|---|
| JOGJA HARI INI : Dalami Tindak Pidana Lain |
|
|---|
| Pemindahan Vokasi UNY Wates Bisa Batal, Syaratnya: Kulon Progo Dukung Pengadaan lahan Pengembangan |
|
|---|
| Total 68 Anak Korban Daycare Little Aresha Ditangani Unit PPA Polresta Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Keraton-Yogyakarta-Kirim-Utusan-Gelar-Tradisi-Labuhan-di-Gunung-Lawu.jpg)