Pemkab Gunungkidul Bakal Terima 31 Ribu Dosis Vaksin PMK dari Kementan RI Secara Bertahap

DPKH Kabupaten Gunungkidul bakal menerima secara bertahap 31 ribu dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) dari Kementan RI

Dok. Istimewa
Kementan melalui BBVet Wates dan DPKP DIY juga DPKH Gunungkidul dan APPSI gelar vaksinasi massal untuk ternak di Dusun Siraman 2, Desa Siraman, Wonosari, Selasa (31/12/2024) untuk mencegah penyebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan dan Hewan (DPKH) Kabupaten Gunungkidul bakal menerima secara bertahap 31 ribu dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK).

Kepala DPKH Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, mengatakan jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan permohonan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul yang sebelumnya mengajukan 20 ribu dosis.

"Adapun, vaksin tahap pertama yang kami terima sebanyak 3000 dosis. Adapun vaksin itu telah didistribusikan untuk semua UPT Puskeswan yang ada di Gunungkidul. Selain itu juga melibatkan prakitisi dokter hewan di luar Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan,"ujarnya saat dikonfirmasi pada Minggu (19/1/2025).

Ia menambahkan untuk tahap kedua diperkirakan vaksin akan turun sekitar Februari 2025 mendatang. 

Namun, untuk jumlahnya pihaknya belum bisa memastikan.

"Jadi, bantuan vaksin itu akan turun setia bulan. Februari besok turun lagi, namun untuk berapa yang turun tiap bulan itu kami tidak mengetahui,"jelasnya.

Dia mengatakan selain mengajukan permintaan vaksin ke pemerintah pusat.

Pihaknya juga bakal mengajukan 20 ribu dosis vaksin dari APBD Gunungkidul tahun 2025.

"Saat ini, proses permohonan pengajuan anggaran sudah dilakukan, kami Memang didorong untuk mengakses APBD 2025 untuk mempercepat perluasan PMK,"terangnya.

Baca juga: Sapinya Sembuh dari PMK, Warga Polaman Gunungkidul Gelar Syukuran

Dari data kasus PMK di Kabupaten Gunungkidul terhitung Desember 2024- 5 Januari 2025, yakni terdapat 893 kasus ternak sapi terjangkit PMK, dan 63 di antaranya mati.  

Wibawanti mengklaim dari proses penanganan yang dilakukan sebanyak 300 ekor sapi susah sembuh dari PMK.

"Untuk kasus terjangkit masih kami update, namun untuk yang sembuh hingga sekarang ini sebanyak 300 sapi,"terangnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Disdag Gunungkidul, Ris Heryani, mengatakan pihaknya melakukan pengetatan pengawasan penjualan daging di pasar.

Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya daging tak sehat terutama imbas wabah PMK yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

"Terkait daging, kami tetap melakukan pemantauan, kami lihat secara fisik. Sejauh ini, daging yang beredar masih aman,harga daging terpantau masih stabil meskipun permintaan turun drastis,"urainya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved