Restorasi Motor Klasik yang Bisa Dikayuh, DKW Hummel Tahun 1961 

Restorasi motor klasik adalah seni menghidupkan kembali keindahan dan kejayaan kendaraan yang telah melintasi masa.

|
Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Dok Pribadi
DKW Hummel Tahun 1961 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Restorasi motor klasik adalah seni menghidupkan kembali keindahan dan kejayaan kendaraan yang telah melintasi masa.

Proses ini tidak hanya melibatkan perbaikan fisik, tetapi juga upaya mendalam untuk menjaga keaslian desain dan detail teknis yang menjadi ciri khas motor tersebut. 

Mulai dari memburu suku cadang asli hingga memulihkan lapisan cat yang sesuai dengan era aslinya, setiap langkah restorasi membutuhkan dedikasi, pengetahuan, dan ketelitian tinggi. 

Restorasi Motor Klasik yang Bisa Dikayuh, DKW Hummel Tahun 1961 
Restorasi Motor Klasik yang Bisa Dikayuh, DKW Hummel Tahun 1961  (Ist)

Seperti halnya, Rinda Trisnanta dari Garasi Tua Jogja yang berhasil menghidupkan kembali kejayaan DKW Hummel keluaran tahun 1961.

DKW Hummel adalah salah satu ikon kendaraan roda dua yang dihasilkan oleh Dampf Kraft Wagen (DKW), merek legendaris asal Jerman yang terkenal dengan inovasi di dunia otomotif. 

Diproduksi pertama kali pada tahun 1956, DKW Hummel menjadi pilihan populer di era pasca-Perang Dunia II, terutama karena desainnya yang sederhana namun elegan, serta kehandalannya sebagai kendaraan harian. 

Mengusung mesin 50cc dua-tak, tiga percepatan, motor ini memiliki desain yang aerodinamis dan inovatif untuk masa itu.

Motor ini memiliki garis-garis tubuh yang halus, dengan sentuhan gaya futuristik yang menonjolkan perpaduan antara fungsi dan estetika. 

Sistem pengereman belakang sama seperti sepeda tua dengan menggunakan coaster brake atau torpedo, sedangkan kayuh yang disematkan selain untuk kick starter juga dapat digunakan untuk mengayuh sama seperti sepeda. 

Baca juga: Kalender Jawa Hari Ini Sabtu Kliwon 18 Januari 2025 - 18 Rejeb 1958 TJ - 18 Rajab 1446 H

“Salah satu keunikan dari motor ini adalah dapat dikayuh seperti sepeda walau dalam kondisi mesin mati,” ujarnya. 

Rinda mengungkapkan, DKW yang ia restorasi adalah koleksi dari seorang jenderal TNI. Awalnya, kondisi motor ini cukup memprihatinkan, berdebu, mesin mati dan part serta aksesoris yang tidak lengkap. 

Tantangannya adalah mengembalikan motor ini sama seperti di era jayanya. Maka dari itu ia harus mencari part aksesoris secara impor, karena tidak dijual di Indonesia dan tentu saja memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mendatangkannya. 

 “Suku cadang yang rusak bila tidak bisa direpair ulang harus dicarikan yang baru (nos-new old stock), biasanya impor,” bebernya. 

Hasil akhirnya bukan sekadar kendaraan yang dapat berfungsi kembali, melainkan sebuah mahakarya yang merepresentasikan nilai sejarah dan warisan budaya otomotif.

Ia pun mengaku ada kepuasan tersendiri karena dapat menyelesaikan tantangan yang diberikan dari customer-nya.  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved