Menjaga Orisinalitas Vespa Sprint 73 dengan Sentuhan Modifikasi Modern

Dari sekian banyak seri Vespa, pilihannya jatuh pada Sprint Latin 1973 yang akrab ia sebut Astuti, singkatan dari Asli Tujuh Tiga.

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Modifikasi Vespa Sprint 73 yang tetap menjaga originalitas 

TRIBUNJOGJA.COM - Vespa klasik selalu punya daya tarik tersendiri. Di satu sisi, orisinalitasnya menjadi nilai historis yang sulit tergantikan, namun di sisi lain kebutuhan modifikasi hadir untuk menyesuaikan kenyamanan dan gaya hidup masa kini. 

Perpaduan keduanya kerap melahirkan motor yang bukan hanya indah dipandang, tapi juga tetap nyaman dipakai harian.

Bagi Agung, penghobi Vespa asal Bantul, Yogyakarta, motor bukan sekadar alat transportasi melainkan juga bagian dari perjalanan hidup.

Dari sekian banyak seri Vespa, pilihannya jatuh pada Sprint Latin 1973 yang akrab ia sebut Astuti, singkatan dari Asli Tujuh Tiga. Motor klasik itu ia dapat dari seorang teman, yang karena satu dan lain hal akhirnya melepas koleksi kesayangannya. 

“Pertama kali nyoba langsung naksir, soalnya sudah dimodif dan direstorasi cakep. Luaran dan daleman oke, tinggal pancal,” ungkapnya.

Vespa Sprint merupakan salah satu seri ikonik keluaran Piaggio yang lahir di awal 70-an. Modelnya terkenal ramping, dengan lampu bulat dan bodi khas baja yang masih bertahan hingga kini. Di Indonesia, seri ini menjadi buruan para kolektor karena jumlah unit yang terbatas dan statusnya yang klasik.

Meski sudah melewati lebih dari setengah abad, Agung berusaha tetap menjaga keaslian motornya. Beberapa komponen seperti body set, speedometer, kipas, dan magnet masih orisinal bawaan pabrik. Sementara itu, bagian lain ia beri sentuhan modern dengan komponen aftermarket. 

“Restorasi tetap harus menampilkan look originalnya. Saya suka vespa original, tapi kalau dapat restorasi, asal masih sesuai kaidah juga tetap oke. Dan, tetap direstorasi untuk lebih menambah kenyamanan berkendara,” jelasnya.

Beberapa part yang ia pilih terbilang unik. Shock belakang Kayaba baru dipadukan dengan shock depan RMS agar lebih stabil. Sistem pengapian sudah 12 volt dengan CDI RX King, sementara knalpot ia percayakan pada Polini Big Box. Cat bodi pun baru setahun digarap ulang, membuat tampilan Vespa terlihat segar tanpa menghilangkan aura klasik.

Menurut Agung, modifikasi yang ia lakukan bukan semata-mata gaya. Faktor kenyamanan dan nilai estetika juga menjadi pertimbangan utama. 

“Kenyamanan, estetika, dan tentunya juga punya nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya. 

Ia menambahkan, mesin kini lebih bertenaga untuk dipakai touring harian berkat penggunaan rasio Strada, seher Ninja, hingga blok P4K Excel yang terkenal tangguh.
Namun, mengendarai motor klasik di jalanan masa kini tentu ada tantangannya. 

“Vespa klasik itu lebih berat secara handling. Tapi feelnya dapet daripada pakai motor modern,” kata Agung. 

Baginya, sensasi itu justru menjadi alasan mengapa Vespa masih dicintai hingga sekarang.

Di luar aspek teknis, Agung melihat Vespa punya nilai lebih di mata generasi muda. Sebagian memang menjadikannya tren gaya hidup, sebagian lain betul-betul ingin merawat nilai historisnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved