Smallframe Rasa Racing, Vespa PTS Ini Tembus Puluhan Juta Rupiah

Wahyu, warga Kalasan, Sleman, memilih jalur itu lewat sebuah Vespa PTS smallframe yang kini tampil berbeda dari standar pabrikan.

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Penampilan modifikasi Vespa PTS 
Ringkasan Berita:
  • Wahyu, warga Kalasan, Sleman, memodifikasi Vespa PTS smallframe yang kini tampil berbeda dari standar pabrikan. 
  • Populasi smallframe tidak sebanyak seri lain, sementara permintaan terus naik sehingga harganya melambung
  • Ia menaikkan kapasitas mesin dari standar menjadi 130 cc. Kemudian berkembang meningkatkan rasio gigi menjadi empat percepatan
  • Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, total anggaran menyentuh puluhan juta rupiah

 

TRIBUNJOGJA.COM -  Vespa klasik kini menemukan ruang baru sebagai objek koleksi sekaligus kanvas modifikasi di tengah tren motor modern yang serba instan. Nilainya tidak lagi sekadar alat transportasi, melainkan simbol gaya, presisi detail, dan perhitungan teknis yang matang. 

Wahyu, warga Kalasan, Sleman, memilih jalur itu lewat sebuah Vespa PTS smallframe yang kini tampil berbeda dari standar pabrikan. Sekilas, unit miliknya memang tampak seperti Vespa klasik kecil pada umumnya. Namun bagi yang jeli, perbedaan langsung terlihat dari proporsi bodinya yang lebih ringkas. 

“Karena bentuknya lebih kecil. Makanya dibilang smallframe. Bentuknya unik, dan enak untuk dikoleksi. Dulu unit ini harganya murah, sekarang sudah mahal,” ujar Wahyu.

Populasi tidak banyak

Kategori smallframe inilah yang menjadi salah satu faktor utama melambungnya harga. Populasinya tidak sebanyak seri lain, sementara permintaan terus naik.

Penampilan modifikasi Vespa PTS
Penampilan modifikasi Vespa PTS (Istimewa)

Ditambah lagi, banyak komponen aftermarket yang bernilai tinggi ikut mendorong biaya restorasi maupun modifikasi. Rangka kecil dengan karakter khas membuat model ini semakin diburu kolektor.

Wahyu sendiri memilih Vespa PTS sebagai basis modifikasi bukan tanpa alasan. Menurutnya, dimensi yang lebih mungil justru memberi keuntungan ketika diarahkan ke konsep racing. Motor terasa lebih lincah, visualnya juga lebih proporsional ketika digarap serius.

Kapasitas mesin jadi 130 cc

Proyek ini awalnya sederhana. Ia hanya ingin menaikkan kapasitas mesin dari standar menjadi 130 cc. Namun seiring proses berjalan, targetnya berkembang. Rasio gigi ditingkatkan menjadi empat percepatan, sektor pengapian ikut dirombak, hingga detail performa lain disesuaikan. 

“Yang ingin saya capai performa dan koleksi,” katanya.

Pada sektor mesin, Wahyu mengganti blok dengan produk aftermarket Italia menggunakan DR kit, lalu mengaplikasikan sistem pengapian custom yang mendekati spesifikasi Malossi. Untuk mendukung suplai tenaga di putaran atas, ia memasang knalpot Pollini Evo. Transmisi pun diubah menggunakan gear set copotan PK agar menjadi empat speed, bukan lagi tiga percepatan seperti standar awal.

Kenaikan kapasitas ke 130 cc dipilih demi mendongkrak tenaga sekaligus mengejar kecepatan jelajah. Motor ini tidak hanya dibangun untuk dipajang, tetapi juga siap diajak perjalanan jauh. 

“Nyaman untuk riding. Kalau mau turing sudah ga takut lagi ketinggalan sama vespa-vespa besar,” ujarnya.

Sektor kaki

Peningkatan tidak berhenti di mesin. Sektor kaki kaki menggunakan velg Gscooter yang dipadukan dengan ban Pirelli Angel Scooter. Suspensi mengandalkan kombinasi BGM dan Vrossi tabung untuk menjaga stabilitas. Pengereman cakram sempat masuk rencana, meski belum direalisasikan. Dari sisi tampilan, cat dibuat dengan efek glowing untuk menonjolkan kesan eksklusif, sementara proporsi kaki kaki dan knalpot dirancang agar seimbang dengan performanya.

Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Blok mesin, velg, knalpot, rasio, shock, hingga detail kecil lain membuat total anggaran menyentuh puluhan juta rupiah, belum termasuk ongkos pengerjaan. Namun hasilnya sepadan. Dibanding Vespa PTS standar, karakter berkendaranya berubah signifikan, lebih responsif, lebih bertenaga, dan handling terasa lebih mantap.

Bagi Wahyu, membangun Vespa kecil dengan kualitas seperti ini bukan perkara tren, melainkan perencanaan. Ia menyarankan para penggemar Vespa untuk menetapkan tujuan sejak awal, apakah ingin fokus kontes atau riding. Perhitungan bujet juga harus realistis, mengingat harga unit dan komponen smallframe yang terus merangkak naik.(nto)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved