Triumph T140 US Jadi Basis Chopper Tradisional Garapan Christoph Cycle

Bahan utama proyek ini adalah mesin Triumph T140 US lima percepatan dengan posisi perseneling kiri.

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa/dok Kustomfest
Chopper tradisional dengan mesin Triumph T140 US 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah maraknya gaya kustom modern yang serba rapi dan presisi, Christoph Cycle di Bantul justru menghadirkan sebuah chopper yang terasa jujur dan apa adanya. Berangkat dari sebuah mesin tua Inggris, motor ini tidak dibangun untuk sekadar tampil beda, tetapi untuk merayakan karakter mekanis dan estetika chopper tradisional yang tumbuh dari proses panjang.

Bahan utama proyek ini adalah mesin Triumph T140 US lima percepatan dengan posisi perseneling kiri. Erick, pemilik sekaligus builder Christoph Cycle, mengaku tidak ada rencana besar di awal ketika mesin ini pertama kali ia dapatkan. 

“Sebenernya kebeneran aja dapet mesin Triumph seri ini,” ujar Erick. 

Mesin tersebut kemudian disimpan cukup lama, menunggu waktu yang tepat untuk digarap, di tengah padatnya pekerjaan bengkel dan proyek lain yang datang silih berganti.

Pilihan mesin Triumph T140 US sendiri memberi fondasi yang menarik. Di era ketika banyak motor Inggris masih menggunakan perseneling kanan, versi US dengan perseneling kiri menawarkan pengalaman berkendara yang lebih familiar bagi banyak orang.

Erick menilai hal itu menjadi nilai lebih tersendiri, terutama bagi pengendara yang tidak terbiasa dengan konfigurasi klasik Inggris. Karakter mesin twin khas Triumph tetap dipertahankan, dengan denyut mekanis yang terasa hidup dan respons yang jujur, khas mesin tua.

Saat pertama kali didapat, kondisi mesin jauh dari kata siap pakai. Erick menyebut mesin tersebut belum pernah direbuild dan kondisinya masih berantakan. Proses restorasi pun dilakukan perlahan, tanpa target waktu yang kaku.

Rebuild dilakukan tahap demi tahap untuk memastikan mesin kembali sehat, tanpa menghilangkan karakter aslinya. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi chopper tradisional yang lebih mengutamakan rasa dan fungsi dibanding sekadar tampilan bersih.

Sejak awal, Erick memang sudah membayangkan motor ini akan dibentuk sebagai chopper tradisional. Prosesnya panjang karena motor ini merupakan milik pribadi dan sempat beberapa kali disisihkan.

Namun konsep dasarnya tidak pernah berubah. Rangka dan proporsi dibentuk ramping, menciptakan siluet motor yang slim dan ringan secara visual. Erick menegaskan bahwa kesan tradisional itu justru muncul dari kesederhanaan bentuk. 

“Dari bentuknya sih, karena motornya lebih slim ya, mungkin jadi terlihat tradisionalnya,” katanya.

Salah satu elemen paling mencolok dari motor ini adalah pilihan roda. Christoph Cycle memasang pelek depan ring 23 dengan ban besar, dipadukan dengan pelek belakang ring 19. Kombinasi ini bukan hanya jarang dipakai, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan.

Erick menyebut pencarian velg depan ring 23 beserta bannya sebagai bagian paling sulit dari proyek ini. Di sisi lain, detail ini justru menjadi penentu karakter motor, meski sering luput dari perhatian orang awam. 

“Ya mungkin perpaduan ban depan belakangnya, jarang yang tau kalau ban depan belakangnya nggak seperti biasanya, belakang 19 depan 23,” ujar Erick.

Secara visual, kombinasi roda tersebut mempertegas kesan chopper klasik dengan stance depan yang tinggi dan agresif, sementara bagian belakang tetap proporsional dan padat. Pilihan ini juga memengaruhi rasa berkendara.

Meski menggunakan mesin tua dengan karakter khas, Erick menilai motor ini tetap nyaman digunakan berkat bodinya yang ramping. 

Menurutnya, sensasi berkendara yang dihasilkan tidak jauh berbeda dari motor klasik lain yang pernah ia garap, namun terasa lebih ringan dan menyenangkan karena proporsi tubuh motor yang slim.(nto)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved