Korekayu Hadirkan Pengalaman Panggung Sinematik lewat ‘Een Verhaal in de Tijd’

Unit pop asal Yogyakarta ini merilis live album sinematik dan video performance bertajuk ‘Een Verhaal in de Tijd’,

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Personel Korekayu 

TRIBUNJOGJA.COM - Menjelang awal 2026, Korekayu menghadirkan sebuah rilisan yang merangkum pertunjukan musik, visual, sekaligus narasi sejarah dalam satu kesatuan.

Unit pop asal Yogyakarta ini merilis live album sinematik dan video performance bertajuk ‘Een Verhaal in de Tijd’, yang merekam penampilan mereka di panggung ARTJOG pada 8 Agustus 2025.

Rilisan ini merupakan hasil interpretasi ulang album ‘Verhaal’ dengan pendekatan musikal dan visual yang lebih luas. Korekayu tidak sekadar memindahkan materi album ke format panggung, melainkan membangun sebuah pengalaman pertunjukan yang dikurasi secara menyeluruh, baik dari sisi aransemen maupun konsep visual.

Dalam pertunjukan tersebut, Korekayu merespons periode peralihan penjajahan Belanda ke Jepang di Indonesia, khususnya atmosfer militer Jepang pada rentang 1942 hingga 1945. Pendekatan itu diperkuat melalui penggunaan kostum gakuran dan seifuku oleh para personel, menghadirkan nuansa teater musikal yang jarang ditemui dalam skena indie lokal.

Bondan menyebut bahwa konsep tersebut memang dirancang untuk memperluas pengalaman audiens. 

“Melalui ‘Een Verhaal in de Tijd,’ Korekayu menghadirkan pendekatan artistik yang menggabungkan teater, sejarah, dan musik pop dari perspektif generasi muda,” ujarnya.

Dari sisi musikal, ‘Een Verhaal in de Tijd’ menampilkan bentuk paling ekspansif dari karya Korekayu sejauh ini. Aransemen lagu-lagu dalam ‘Verhaal’ disusun ulang dengan penambahan brass section, backing vocal, seruling, ketipung, dan gitar akustik, menciptakan soundscape yang lebih megah dan dramatis dibanding versi studio.

Salah satu momen paling emosional dalam konser ini terjadi ketika Indra Prasta dan Iwan Tanda dari The Rain naik ke atas panggung untuk membawakan ‘Terserah Maumu’. Lagu tersebut ditampilkan dalam format live yang berbeda dari versi aslinya, dengan karakter yang lebih raw, lebih luas, dan menghentak secara emosional.

Lukas menilai rilisan ini tidak sekadar menjadi dokumentasi pertunjukan. 

“Setiap lagu dalam Verhaal disusun ulang agar dapat menyatu dengan konsep historis yang diangkat, menjadikan live album ini bukan hanya dokumentasi panggung, tetapi sebuah pengalaman naratif yang terkurasi,” kata Lukas.

Live album dan video performance ‘Een Verhaal in de Tijd’ dijadwalkan rilis pada 1 Januari 2026 dan dapat diakses melalui YouTube serta seluruh platform streaming digital.

Sebagai informasi, Korekayu, dibaca korek kayu, merupakan sekstet oldies pop asal Yogyakarta yang aktif bermusik sejak 2012. Band ini dikenal dengan ciri khas harmoni vokal bertumpuk. Korekayu beranggotakan Alfon pada vokal, Bondan pada vokal dan gitar, Lukas pada vokal dan gitar, Bagas pada bass, Alvin pada drum, serta Yusti pada keyboard.(nto)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved