Liputan Khusus

Godaan Diskon Besar, Jebakan Doom Spending yang Sulit Ditolak

Godaan untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan semakin besar dengan adanya kemudahan akses informasi dan berbagai promo menarik.

|
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
Istimewa
Iustrasi belanja online. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tren belanja impulsif atau doom spending semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan generasi muda.

Godaan untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan semakin besar dengan adanya kemudahan akses informasi dan berbagai promo menarik.

Padahal, kebiasaan konsumtif ini dapat berdampak buruk pada keuangan pribadi dan masa depan.

Sinta (27), seorang karyawan swasta di Kota Yogyakarta, mengaku pernah terperangkap dalam siklus belanja impulsif atau yang sering disebut doom spending.

Godaan diskon besar-besaran membuatnya sulit untuk menolak membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

"Saya sering membeli baju dan makeup dengan alasan 'siapa tahu nanti dipakai'. Namun, pada kenyataannya banyak barang yang hanya tersimpan di lemari tanpa pernah digunakan," ungkap Sinta.

Perilaku belanja impulsif ini, menurut Sinta, seringkali dipicu oleh faktor psikologis.

"Saat melihat diskon besar, saya merasa seperti mendapatkan penawaran yang sangat bagus dan sayang jika dilewatkan," jelasnya.

Doom spending tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan pribadi, tetapi juga dapat memicu stres dan penyesalan. Sinta mengakui bahwa setelah melakukan pembelian impulsif, ia sering merasa bersalah karena telah membuang-buang uang.

"Saya merasa sangat menyesal ketika melihat tagihan kartu kredit yang membengkak akibat belanja impulsif. Selain itu, lemari pakaian saya juga penuh dengan baju yang jarang dipakai," ujarnya.

Ayu (33), seorang profesional muda di Yogyakarta, mengaku sering kali terjebak dalam kebiasaan belanja impulsif atau doom spending. Ia kerap kali membeli barang-barang mewah seperti tas kulit custom dan melakukan modifikasi pada motornya, meskipun sadar bahwa pengeluaran tersebut tidak terlalu diperlukan.

“Saya tahu ini boros, tapi sulit untuk menolak godaan membeli barang-barang yang membuat saya merasa puas seketika,” ujar Ayu.

Ayu menjelaskan bahwa dorongan untuk membeli barang-barang mewah sering kali muncul ketika ia merasa bosan.

"Dengan membeli barang-barang yang saya inginkan, saya merasa lebih baik dan terhibur sejenak," ungkapnya.

Namun, setelah rasa puas itu hilang, Ayu kerap kali merasa menyesal karena telah menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved