GLOBAL VIEWS
Apa yang Akan Terjadi Setelah Rudal Iran Hujani Israel?
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan serangan kali ini adalah untuk menunjukkan hak legal Iran dan tujuan menciptakan perdamaian untuk Iran.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Danny Danon, memperingatkan Iran akan segera merasakan konsekuensi dari tindakan mereka dan respons Israel akan menyakitkan.
Menteri Luar Negeri Israel Katz mengatakan serangan tersebut telah melewati garis merah, dan Israel tidak akan tinggal diam.
Pemimpin oposisi Yair Lapid mengatakan dalam sebuah posting media sosial, Israel kuat dan akan menang.
Menteri Keuangan Israel yang dikenal radikal Bezalel Smotrich mengatakan seperti Gaza, Hizbullah, dan negara Lebanon, Iran akan menyesali momen tersebut.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyebut serangan Iran sebagai kesempatan terbesar dalam 50 tahun untuk mengubah dinamika Timur Tengah.
Israel semestinya bergerak untuk menghancurkan program nuklir Iran dan fasilitas energi utama negara tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan ini, termasuk suara oposisi Israel, jelas tergambar persamaan sikap dan pendapat rezim zionis itu.
Ada gairah besar, semangat tinggi, dan kehendak untuk melanjutkan konflik Israel-Iran lewat jalan peperangan.
Israel memiliki segalanya, sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki segala peralatan tempur paling modern yang tersedia di planet ini.
Israel tidak memiliki kekuatan tandingan di Timur Tengah dalam hal supremasi udara. Iran jelas tidak punya kekuatan memadai di sektor udara karena hanya memiliki sejumlah kecil jet-jet tempur lawas.
Bahkan Iran masih mengoperasikan jet tempur F-4 Phantom buatan McDonnel Douglas, pesawat tempur kiriman Amerika semasa rezim Shah Iran.
Jet-jet tempur Iran yang tergolong baru hanya MiG-29 buatan Rusia dan jet tempur F-14 Tomcat dari Amerika.
Sisanya, Iran menggunakan pembom Sukhoi Su-24, dan Su-22 era Soviet. Kekuatan ini jelas tidak sebanding dengan Angkatan Udara Israel yang sangat modern.
Militer Republik Islam Iran secara praktis tidak bisa berkembang karena menerima embargo militer sejak Revolusi Islam tahun 1978.
Namun, Iran memiliki kemampuan hebat mengembangkan peluru kendali jarak dekat, jarak sedang maupun jarak jauh hipersonik.
Iran juga dikenal dan diakui memiliki kualifikasi hebat pengembangan teknologi pesawat nirawak atau drone untuk kepentingan pertempuran.
Negara ini menjadi kekuatan paling diperhitungkan dalam hal produksi drone militer selain Amerika Serikat, China, Turki, dan Israel.
Rusia pun belajar banyak dari kemampuan Iran. Ini terlihat dari medan tempur Ukraina, ketika Rusia mengerahkan drone-drone kamikaze sejenis yang diproduksi Iran. (Tribunjogja.com/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/httpswwwyoutubecomwatchvcDN6tuR4P9I.jpg)