Masa Pancaroba, Kasus ISPA di Kota Yogyakarta Meningkat

Masa pancaroba yang melanda Kota Yogyakarta beberapa pekan terakhir, berdampak pada peningkatan kasus ISPA di masyarakat.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
DOK. New York Times
Ilustrasi Ispa 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masa pancaroba yang melanda Kota Yogyakarta beberapa pekan terakhir, berdampak pada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di masyarakat.

Perubahan cuaca yang begitu signifikan selama momen peralihan musim kemarau ke penghujan ini, disinyalir menjadi penyebabnya.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengatakan, penyakit ISPA dapat cepat menyerang bayi, balita, hingga ibu hamil. 

Sampai sejauh ini, jumlah kunjungan balita penderita batuk dan kesukaran bernapas ke fasilitas kesehatan mencapai 6.374 kasus, di mana kasus terbanyak ditemukan di wilayah Gedongtengen. 

"Karena balita maupun ibu hamil ini kelompok rentan terhadap penyebaran penyakit. Sehingga, penderita ISPA di Kota Yogya paling banyak dari kalangan itu," urainya, Senin (23/9/2024).

Dijelaskan, peningkatan kasus ISPA terjadi akibat perubahan suhu dan kelembaban drastis, yang lantas melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat individu lebih rentan infeksi.

Adapun gejala umum yang muncul antara lain, batuk, pilek dan sesak napas, serta demam dalam jangka waktu yang cenderung panjang.

"Virus dan bakteri penyebab ISPA mudah menyebar saat cuaca tidak menentu. Sehingga, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan," jelasnya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Mobil Tabrak Toko dan 4 Kendaraan di Wates, Diduga Gara-gara Sopir Ngantuk

Sebagai antisipasi, pihaknya pun meminta warga menggencarkan Gerakan masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan rutin olahraga, makan-makanan bergizi, tidak merokok dan cek kesehatan berkala.

Selain itu, diharapkan masyarakat mencuci tangan secara teratur, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kerumunan saat muncul gejala ISPA, serta menggunakan masker di tempat umum untuk mengurangi risiko penularan.

"Segera menghubungi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mencurigakan, agar penanganan dapat dilakukan lebih awal. Hindari minuman dingin, merokok dan asap rokok" tandasnya.

Sementara, Kepala Puskesmas Mantrijeron Eny Purdiyanti, mengungkapkan, kasus kunjungan balita penderita batuk dan kesusahan bernapas atau ISPA turut mengalami peningkatan di faskesnya

Ia merinci, sepanjang Januari hingga 20 September 2024, terdapat 989 kunjungan pasien karena menderita batuk dan kesusahan bernafas 

"Kami sudah siapkan tim medis dan obat-obatan untuk memastikan pasien mendapat perawatan yang tepat. Pasien yang mengalami gejala infeksi seperti susah bernafas, batuk dan lainnya, kami pisahkan dengan pasien lain, untuk menghindari penularan," ujarnya. (aka)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved