Ancaman El Nino di DIY: Dinkes Waspadai ISPA, Penurunan Gizi, hingga Stunting

Ancaman fenomena cuaca ekstrem berkepanjangan akibat El Nino berpotensi membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat di wilayah DIY

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H 

Ringkasan Berita:
  • Dinkes DIY memperingatkan bahwa cuaca ekstrem El Nino berpotensi memicu penyakit ISPA akibat debu, infeksi pencernaan karena krisis air bersih, serta penurunan kualitas pangan segar.
  • Kekeringan mengancam ketersediaan gizi mikro dari sayur dan buah, yang rentan menyebabkan anemia serta memicu stunting pada anak.
  • Pemda DIY menggalakkan program cek kesehatan gratis di puskesmas dan menjamin biaya pengobatan warga via Jamkesos jika tidak ter-cover BPJS, seiring cakupan UHC yang hampir 100 persen.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ancaman fenomena cuaca ekstrem berkepanjangan akibat El Nino berpotensi membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dinas Kesehatan DIY mengingatkan warga untuk mewaspadai ancaman penyakit pernapasan, infeksi bakteri, hingga potensi penurunan kualitas gizi yang dapat berujung pada anemia dan stunting.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H memaparkan bahwa perubahan cuaca yang ekstrem tidak sekadar memicu persoalan dehidrasi atau krisis air, melainkan dapat mendegradasi kualitas bahan pangan segar di pasaran.

Padahal, pangan segar merupakan garda terdepan penyuplai vitamin dan mineral bagi masyarakat.

Dr. Anung menekankan bahwa pemerintah dan masyarakat harus menaruh perhatian khusus pada ancaman defisiensi gizi mikro.

"Cuma dengan perubahan cuaca ekstrem ini, ada kemungkinan kualitas produk pangan segar terganggu. Jangan sampai ini berpengaruh terhadap kebutuhan gizi makro dan mikro masyarakat. Gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak bisa diganti sumber lain. Tetapi gizi mikro seperti Vitamin A, Vitamin C, dan zat besi dari sayuran dan buah-buahan itu sangat penting," ujar dr. Anung merinci dampak turunan dari kekeringan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kelangkaan gizi mikro di tengah masyarakat rentan memicu masalah kesehatan jangka panjang, terutama pada tumbuh kembang anak-anak.

"Kekurangan gizi mikro juga bukan perkara sederhana; kekurangan vitamin B12 dan zat besi bisa menyebabkan anemia (kurang darah) dan berpotensi memicu stunting pada anak," paparnya.

Selain persoalan ketahanan gizi, kemarau panjang yang memicu tingginya intensitas debu turut meningkatkan kerentanan warga terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dr. Anung juga mengingatkan tentang potensi merebaknya infeksi bakteri pencernaan yang kerap timbul manakala ketersediaan air bersih mulai terbatas.

Baca juga: Siapa Marsinah yang Museumnya di Nganjuk Diresmikan Presiden Prabowo Hari Ini

Menyikapi hal tersebut, ia menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan tetap mengedepankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara disiplin, meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya air.

"Dalam cuaca ekstrem, debu beterbangan. Untuk orang yang sensitif, gunakan masker secukupnya supaya meminimalkan paparan ke saluran napas. Selain itu, pastikan makanan dicuci bersih meskipun sumber air terbatas. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus dijaga agar terhindar dari infeksi bakteri pencernaan," imbaunya.

Sebagai bentuk mitigasi dan jaring pengaman sosial di bidang kesehatan, Pemerintah Daerah DIY telah mempersiapkan skema perlindungan berlapis.

Langkah preventif dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis yang dapat diakses minimal setahun sekali di puskesmas-puskesmas terdekat guna mendeteksi penyakit sedini mungkin.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved