Tekan Prevalensi Stunting DIY, Integrasi Program MBG dan Lumbung Mataraman Digodog

Skema tersebut, diproyeksikan menjadi model percontohan nasional dalam menciptakan ketahanan pangan sekaligus memutus rantai stunting

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Antusiasme siswa sekolah dasar di Kota Yogyakarta menyantap menu makan bergizi gratis, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM - Upaya pengentasan stunting dan penguatan ketahanan pangan di DI Yogyakarta memasuki babak baru, dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektor dan kearifan lokal.

​Yayasan Biijana Paksi Sitengsu sebagai salah satu penyelenggara Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah mematangkan langkah strategis untuk mengintegrasikan konsep Lumbung Mataraman ke dalam program nasional tersebut.

Sebagai bentuk penguatan sinergi, pihak yayasan pun menjadwalkan pertemuan khusus untuk sowan kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas guna membahas peran Kelompok Wanita Tani (KWT) dan PKK dalam sistem lumbung terintegrasi teknologi.

Pemanfaatan lahan desa 

​Penasehat Yayasan Biijana Paksi Sitengsu, RM Ir. Wahyono Bimarso, mengungkapkan, bahwa integrasi ini melibatkan pemanfaatan lahan desa hingga penguatan peran rumah tangga. 

Skema tersebut, diproyeksikan menjadi model percontohan nasional dalam menciptakan ketahanan pangan sekaligus memutus rantai stunting di wilayah Yogyakarta.

​"Dengan memanfaatkan Tanah Kas Desa seluas 1-1,5 hektar sebagai supply chain utama bahan pangan segar (telur, daging, sayur) untuk dapur gizi masyarakat serta pembangunan SPPG berbasis kearifan lokal yang diproyeksikan menjadi model percontohan nasional," tandasnya, Rabu (29/4/26).

Lumbung mataraman pemasok utama

​Dalam skema yang diusulkan, Lumbung Mataraman yang tersebar di setiap desa, otomatis akan diposisikan sebagai pemasok utama bahan pangan segar. 

Alur distribusi dirancang untuk memangkas birokrasi panjang, sehingga produk seperti telur dan sayuran dapat langsung disuplai ke dapur SPPG dengan kualitas nutrisi yang tetap terjaga bagi balita dan ibu hamil.

​Langkah tersebit, disebutnya selaras dengan perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terkait keamanan pangan dalam program gizi nasional. 

​Menjawab tantangan keamanan pangan tersebut, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu telah menyiapkan sistem IT bertajuk Simetris, untuk meminimalisir kesalahan manual. 

Selaku Tim Development IT, A Gilbert Inkiriwang, menjelaskan, bahwa setiap pemasok kini memiliki profil digital dan tidak ada lagi pemesanan melalui pesan singkat konvensional.

​"Semua proses menggunakan e-PO (electronic Purchase Order). Begitu dapur melakukan permintaan, stok di tingkat supplier akan terpotong secara otomatis setelah konfirmasi diberikan. Alur distribusi bahan baku pun dibekali dengan Manifest Pengiriman Digital yang dilengkapi QR Code untuk memastikan tidak ada bahan 'gelap' yang masuk tanpa catatan," jelasnya.

Pastikan kualitas makanan

​Selain itu, sistem pun menerapkan standar HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) Digital di dalam dapur untuk memastikan kualitas setiap porsi makanan.

​Keunggulan lain dari sistem ini adalah penggunaan timbangan digital terhubung dan sensor suhu real-time yang terpasang pada cold storage serta smart cool box. 

Teknologi tersebut memastikan suhu bahan pangan tetap terjaga selama perjalanan menuju sekolah, di mana jika suhu keluar dari batas aman, alarm akan langsung terkirim ke tim Quality Control (QC).

​Pada tingkat akar rumput, integrasi ini juga menghidupkan kembali filosofi Jawa "nandur opo sing dipangan" dengan mendorong peran KWT dan warga untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber gizi harian.

​"Tujuannya adalah kemandirian pangan. Dengan menanam sendiri, akses terhadap gizi tidak lagi terhambat masalah ekonomi maupun jarak distribusi," pungkas Gilbert. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved