GLOBAL VIEWS 

Perang Elite Amerika Melawan Media Rusia

Margarita Simonyan adalah orang nomer satu di grup media Rossiya Segodnya, yang mengelola jaringan media Russia Today dan Sputnik.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Alexander NEMENOV / AFP
Polisi memblokir Lapangan Merah menjelang protes terhadap invasi Rusia ke Ukraina di Moskow tengah pada 24 Februari 2022. 

Cara pandang sama dilakukan media barat terhadap konflik di Sudan, Somalia, Yaman, Suriah, dan tentu saja Palestina.

Mereka menutup mata berbagai peristiwa di Ukraina dan Eropa Timur, jauh sebelum Rusia menggelar operasi militer khusus ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Revolusi EuroMaidan 2014 yang diorkestrasi Amerika dan NATO lewat kelompok-kelompok ultranasionalis dan neo Nazi Ukraina, berhasil menjungkalkan Presiden Viktor Yanukovich.

Yanukovich dianggap terlalu pro-Moskow, dan menghalangi keinginan sebagian elite Kiev yang berusaha membawa Ukraina ke Uni Eropa dan NATO.

Di saat yang sama, Amerika dan NATO menjalankan strategi ekspansi NATO ke Eropa Timur, sesuatu yang tidak pernah dilakukan sejak perang dingin berakhir dan Uni Soviet bubar.

Berbagai kendaraan militer dan tank milik Polandia, Italia, Kanada, dan AS bergerak dalam latihan militer NATO Namejs 2021 di tempat pelatihan di Kadaga, Latvia, pada Senin, 13 September 2021. NATO memperkuat pasukan aliansi dan melakukan latihan di wilayah anggota paling timurnya.
Berbagai kendaraan militer dan tank milik Polandia, Italia, Kanada, dan AS bergerak dalam latihan militer NATO Namejs 2021 di tempat pelatihan di Kadaga, Latvia, pada Senin, 13 September 2021. NATO memperkuat pasukan aliansi dan melakukan latihan di wilayah anggota paling timurnya. (AP PHOTO/ROMAN KOKSAROV)

Moskow sudah berulangkali mencoba berunding dengan Amerika, NATO, dan Uni Eropa tentang arsitektur keamanan Eropa dan politik non-ekspansionis NATO.

Upaya Rusia itu tidak pernah didengar dan diperhatikan, dan pada akhirnya Moskow berpikir ulang tentang bagaimana mengamankan halaman depan wilayahnya dari kehadiran pasukan NATO.

Revolusi EuroMaidan 2014 pun meninggalkan bara masalah di wilayah Donbass, yaitu di Lugansk dan Donetsk, yang mayoritas warganya menolak Ukraina baru di bawah rezim ultra nasionalis Kiev.

Bertahun-tahun sejak 2014, pasukan Kiev membombardir wilayah Donbass, mempersekusi penduduknya yang berkultur dan berbahasa Rusia.

Kelompok perlawanan Donbass memperoleh dukungan dana dan senjata dari Rusia. Konflik ini hendak diselesaikan lewat Perjanjian Minsk 1 dan 2.

Jerman dan Prancis bertindak sebagai garantor atau penjaminnya. Apa yang terjadi kemudian? Kesepakatan Minsk itu hanya menjadi catatan di atas kertas belaka.

Waktu panjang selama upaya perdamaian ala Kesepakatan Minsk, ternyata digunakan NATO untuk memperkuat militer Ukraina.

Jerman dan Prancis tidak melakukan tindakan apapun untuk meredakan bombardemen Ukraina ke  wilayah Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk.

Perjanjian Minks telah gagal total, yang pada akhirnya memaksa penduduk Donbas meminta bantuan militer Rusia.

Uni Eropa dan NATO memang berusaha menarik Ukraina ke blok mereka, dan menjadikan sebagai garis depan pertahanan NATO menghadapi Rusia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved