GLOBAL VIEWS 

Perang Elite Amerika Melawan Media Rusia

Margarita Simonyan adalah orang nomer satu di grup media Rossiya Segodnya, yang mengelola jaringan media Russia Today dan Sputnik.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Alexander NEMENOV / AFP
Polisi memblokir Lapangan Merah menjelang protes terhadap invasi Rusia ke Ukraina di Moskow tengah pada 24 Februari 2022. 

Rubin menuduh organisasi berita Russiya Segondya secara sistematis merusak dukungan global untuk Ukraina.

"Salah satu alasan mengapa begitu banyak negara di dunia tidak sepenuhnya mendukung Ukraina seperti yang diharapkan adalah karena cakupan dan jangkauan Russia Today yang luas," tuduh Rubin.

Lima tahun lalu, Hillary Clinton menuduh Rusia dan medianya mencampuri Pilpres Amerika, dan membuat Donald Trump terpilih, mengalahkan dirinya.

Apa yang sedang terjadi? Mengapa super power yang mengklaim kampiun demokrasi, sekarang berperang melawan media? 

Tara Reade, mantan staf khusus Joe Biden menyebut elite kekuasan di Amerika kini tampak sedang putus asa.

Mereka ingin membungkam suara-suara alternatif yang membuka fakta dan kedok perang proksi Amerika di Ukraina.

Media Rusia di bawah jaringan Rossiya Segodnya menunjukkan informasi versi mereka telah mengancam narasi kompleks industry militer dan komunitas intelijen Amerika.

"Mereka mencoba mengkriminalisasi jurnalisme," kata Tara Reade seraya memperingatkan ancaman serupa akan menimpa outlet media lain di manapun yang tak ksesuai kehendak Washington.

Mantan pejabat Departemen Luar Negeri Amerika dan pensiunan perwira intelijen CIA Larry Johnson menyebut kebebasan berbicara di Amerika sedang diserang.

Johnson pun sedang menunggu waktu apakah dirinya akan dipersekusi seperti halnya Scott Ritter, karena ia kerap berbicara kritis di media Russia Today.

Mantan analis Departemen Pertahanan AS Karen Kwiatkowski memperkirakan kampanye hukum terhadap media Rusia ini erat kaitannya dengan usaha elite Washington meningkatkan histeria Russiagate jelang Pilpres November.

Siapa yang bakal memetik manfaat dari histeria Russiagate ini tentu saja kubu Demokrat yang menjagokan Kamala Harris sebagai penerus Joe Biden.

Pernyataan Karen Kwiatkowski tentang Russophobia dan Pilpres AS memang masuk akal. Tapi lebih dari itu, perang melawan media Rusia ini juga memiliki dimensi lain.

Realitas menunjukkan ada begitu banyak hal terjadi di konflik Rusia-Ukraina, tetapi media arus utama barat selalu menarasikan kepentingan Amerika, Uni Eropa, dan NATO.

Terutama paling signifikan adalah bagaimana media arus utama barat menempatkan sejarah konflik Rusia-Ukraina dan apa yang terjadi di Eropa Timur secara ahistoris.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved