Waspada Pijat Kretek Abal-abal, Ini Kata Dokter Ortopedi

Di balik popularitasnya, pijat ini justru berpotensi membahayakan kesehatan jika dilakukan oleh terapis yang tidak kompeten.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JAKARTA
Foto Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pijat kretek atau pijat tradisional yang mengandalkan bunyi kretek pada persendian kerap menjadi pilihan masyarakat untuk mengatasi keluhan otot dan tulang.

Apalagi, di media sosial, banyak konten pijat kretek yang cukup memuaskan jika didengar. Suara-suara kretek itu memunculkan hasrat orang lain untuk ikut di-kretek juga.

Namun, di balik popularitasnya, pijat ini justru berpotensi membahayakan kesehatan jika dilakukan oleh terapis yang tidak kompeten.

Dokter ortopedi pun mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap pijat kretek abal-abal yang bisa memperparah kondisi medis daripada memberikan solusi.

Dokter Spesialis Ortopedi dari Gatam Institute Orthopaedic and Spine Center, Luthfi Gatam meminta masyarakat berhati-hati memilih pijat alternatif kretek atau chiropractic tersebut.

Hal itu dimungkinkan banyak pijak kretek-kretek yang abal-abal, bahkan ilegal.

"Chiropractic atau tukang kretek itu (bisa saja) ilegal (bila tanpa keilmuan), tapi kalau pijat untuk kenikmatan ya nggak masalah, tapi bukan untuk pengobatan," ujarnya, Jumat (30/8/2024)

Baca juga: Pentas The Life of Butoh Bakal Ditampilkan di GIK UGM, Cek Tanggalnya

Berbeda dengan pijat alternatif yang lain, masalah pada tulang, otot ataupun persendian membutuhkan diagnosa dari dokter maupun fasilitas kesehatan lainnya.

Bila asal saja dipijit kretek-kretek tanpa diagnosa yang tepat, maka dikhawatirkan bisa memperparah masalah kesehatan tersebut.

Luthfi juga menceritakan ada pasien yang bisa meninggal dunia setelah di-kretek lantaran terapis tidak memperhatikan faktor lain, seperti keberadaan pembuluh darah di sekitar tulang.

Saat ini, kasus gangguan atau cedera pada tulang belakang dan otot di Indonesia cukup tinggi.

Sebut saja kasus tulang yang bengkok mencapai 5,5 juta kasus ditemukan. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 persennya butuh dioperasi.

Begitu pula kasus low back pain atau nyeri punggung yang juga cukup tinggi. Dari data Badan Kesehatan Dunia WHO, hampir 40 persen dari 2 Miliar penduduk dunia pernah mengalami nyeri punggung.

"Kalau sakit pinggang perlu diagnosisnya baru tahu pengobatannya seperti apa. Jangan melakukan diagnosis sendiri, harus diketahui dokter ortopedi untuk pengobatannya," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved