tips kesehatan

Mengenal Erotomania, Yakin Bahwa Orang Lain Mencintainya Padahal Tidak

Erotomania tidak hanya mengganggu pikiran penderitanya, tetapi juga bisa berdampak negatif pada orang lain.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
pixabay
ilustrasi stalking atau menguntit 

TRIBUNJOGJA.COM - Erotomania adalah gangguan mental yang menyebabkan seseorang dihantui keyakinan kuat bahwa ada orang lain yang sedang jatuh cinta kepadanya, padahal hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Orang yang dicurigai bisa siapa saja, mulai dari kenalan hingga figur publik seperti selebriti yang kemungkinan besar belum pernah ditemui penderita erotomania.

Gejala utama erotomania adalah delusi atau waham, yaitu keyakinan yang kuat dan tidak berdasar realitas. Penderita erotomania akan terobsesi dengan orang yang diyakininya jatuh cinta tersebut.

Mereka akan menginterpretasikan hal-hal secara tidak objektif sebagai bukti cinta. Senyuman atau sapaan sekilas mungkin dianggap sebagai pesan tersembunyi, lirik lagu di radio diyakini ditujukan khusus untuk mereka, atau kejadian kebetulan dianggap sebagai pertanda cinta sejati.

Dilansir dari laman Alodokter Kemenkes RI, hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti seseorang mengalami erotomania. Namun, gangguan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik, psikologis, gaya hidup, dan faktor lingkungan.

Tidak hanya itu, erotomania juga sering muncul karena gangguan jiwa tertentu, seperti:

- Skizofrenia
- Gangguan bipolar
- Gangguan skizoafektif
- Depresi
- Gangguan kepribadian, misalnya borderline personality disorder

Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa erotomania dapat terjadi sebagai cara seseorang untuk mengendalikan stres dan trauma berat yang dialaminya. Selain itu, penyakit otak juga bisa menimbulkan gejala erotomania, seperti tumor otak atau penyakit Alzheimer.

Baca juga: 5 Ciri Lingkungan Kerja Toxic dan Cara Menghadapinya

Erotomania tidak hanya mengganggu pikiran penderitanya, tetapi juga bisa berdampak negatif pada orang lain.

Mereka mungkin melakukan tindakan yang mengganggu privasi orang yang dicurigai, seperti kirim pesan atau telepon secara terus menerus, bahkan menguntit.

Dalam kasus yang parah, erotomania bisa berujung pada tindakan kekerasan.

Hal ini bisa terjadi karena penderita erotomania merasa cinta mereka tidak terbalas atau bahkan ditolak, yang memicu kemarahan dan dendam.

Mencari Jalan Keluar dari Labirin Erotomania

Erotomania dapat ditangani dengan pendekatan medis dan psikologis.

Pendekatan medis berupa pemberian obat-obatan antipsikotik untuk mengurangi delusi dan psikosis yang menyertai erotomania. Obat-obatan ini berfungsi mengatur neurotransmitter di otak agar kembali seimbang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved