Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Jemparingan, Warisan Budaya Panahan Tradisional Yogyakarta
Jemparingan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
Sementara itu, Abdi Dalem Pura Pakualaman Urusan Kapanitran KMT Sestrodiprojo menyampaikan, jemparingan juga khas dengan busana yang harus dikenakan.
Dimana pemanah jemparingan diwajibkan untuk memanah dengan mengenakan pakaian daerah masing-masing, seperti busana pranakan atau surjan, apabila berasal dari Jawa.
Busur yang digunakan dalam jemparingan sendiri disebut dengan gandewa.
Sementara sasarannya bukanlah lingkaran, melainkan berupa silinder kecil yang disebut wong-wongan atau bandul yang mencitrakan orang yang sedang berdiri.
Bentuknya silinder tegak sepanjang 30 cm dengan diameter sekitar 3 cm.
Sekitar 5 cm di bagian atas diberi warna merah yang dinamakan molo atau sirah (kepala). Kemudian bagian bawah diberi warna putih dan dinamakan awak (badan).
"Jadi sasaran jemparingan itu berupa bandul. Kalau merah itu nilainya 3, itu dianggap kepala. Yang badan itu yang putih, itu nilainya satu. Setiap rambahan atau ronde istilahnya, itu anak panahnya cuma 4. Dikalikan 20 rambahan atau 20 ronde, jadi orang itu memanah 80 kali," urai KMT Sestrodiprojo.
KMT Sestrodiprojo pun menyebutkan, lomba Jemparingan Mataraman yang digelar dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 ini sendiri diikuti oleh sebanyak 880 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Selain dari lokal DIY, para peserta berasal dari Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Memang yang pertama, untuk ikut lomba jemparingan ini adalah yang punya KTP. Artinya dewasa. Seandainya ada anak yang lebih muda atau remaja mau ikut, kita anggap dewasa. Tidak pakai KTP, tidak apa-apa. Kita anggap sudah dewasa. Diperkenankan,” terang KMT Sestrodiprojo.
Saat ditemui di sela perlombaan, Hani salah satu peserta lomba Jemparingan Mataraman berusia 15 tahun asal Surabaya mengungkapkan, ia telah menekuni olahraga ini sejak tahun 2022.
"Awalnya diajak. Terus lama-lama karena busurnya kalau dirancang itu keren jadi tertarik main terus. Ingin punya busur yang keren-keren," ungkap Hani.
Sementara itu, Aksa seorang peserta berumur 10 tahun asal Sleman mengaku tertarik untuk mengikuti jemparingan karena keseruan yang dirasakan saat melakukan olahraga ini.
"Aku suka jemparingan karena seru. Awalnya tak kirain susah, ternyata gampang. Sudah pernah ikut lomba 3 kali tapi belum pernah juara," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )
| Dispar DIY Luncurkan Calender of Event, Sport Tourism Terus Dieksplor |
|
|---|
| Film 1 Kakak 7 Ponakan, Drama Keluarga yang Hangat di Penutupan JAFF 2024 |
|
|---|
| Festival Angkringan Yogyakarta 2024: Angkat Kuliner Ikonik dengan Sentuhan Modern |
|
|---|
| Formulasi Kenaikan UMP Mestinya Disesuaikan dengan Kondisi Daerah |
|
|---|
| Pemda DIY Ikuti Penjurian Apresiasi Kinerja Pemerintahan Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jemparingan-Warisan-Budaya-Panahan-Tradisional-Yogyakarta.jpg)